<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Asuhan Keperawatan</title>
	<atom:link href="http://asuhan-keperawatan.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asuhan-keperawatan.com</link>
	<description>Kumpulan Asuhan Keperawatan, Asuhan kebidanan, Diagnosa Keperawatan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 19:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Hipovolemik</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 19:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Aldosteron]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Cairan Tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Cedera]]></category>
		<category><![CDATA[Diuresis]]></category>
		<category><![CDATA[Diuretik]]></category>
		<category><![CDATA[Duodenum]]></category>
		<category><![CDATA[HEMATEMESIS]]></category>
		<category><![CDATA[Hipovolemik]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuat]]></category>
		<category><![CDATA[Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[Luka Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Otak]]></category>
		<category><![CDATA[Pembuluh Darah]]></category>
		<category><![CDATA[PENATALAKSANAAN]]></category>
		<category><![CDATA[Plasma Protein]]></category>
		<category><![CDATA[Renin Angiotensin]]></category>
		<category><![CDATA[Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Saraf]]></category>
		<category><![CDATA[Syok]]></category>
		<category><![CDATA[Syok Hipovolemik]]></category>
		<category><![CDATA[USUS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html</guid>
		<description><![CDATA[Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari luka, atau hematemesis dari tukak lambung. Perdarahan yang tidak terlihat, misalnya perdarahan dari saluran cerna, seperti tukak duodenum, cedera limpa, kehamilan di luar uterus, patah tulang pelvis, dan patah tulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqfV8z6J5I/AAAAAAAAALE/VBCpmdaAQjY/s1600/SHOCK.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 180px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqfV8z6J5I/AAAAAAAAALE/VBCpmdaAQjY/s320/SHOCK.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551424690137474962" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">Perdarahan </span>merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari luka, atau hematemesis dari tukak lambung. Perdarahan yang tidak terlihat, misalnya perdarahan dari saluran cerna, seperti tukak duodenum, cedera limpa, kehamilan di luar uterus, patah tulang pelvis, dan patah tulang besar atau majemuk.<br />
</div>
<div style="text-align: justify;">
<div style="text-align: justify;">
<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Syok hipovolemik</span> juga dapat terjadi karena kehilangan cairan tubuh yang lain. Pada luka bakar yang luas, terjadi kehilangan cairan melalui permukaan kulit yang hangus atau di dalam lepuh. Muntah hebat atau diare juga dapat mengakibatkan kehilangan banyak cairan intravaskuler. Pada obstruksi, ileus dapat terkumpul beberapa liter cairan di dalam usus. Pada diabetes atau penggunaan diuretik kuat, dapat terjadi kehilangan cairan karena diuresis yang berlebihan. Kehilangan cairan juga dapat ditemukan pada sepsis berat, pankreatitis akut, atau peritonitis purulenta difus.<br />
<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Pada syok hipovolemik,</span> jantung akan tetap sehat dan kuat, kecuali jika miokard sudah mengalami hipoksia karena perfusi yang sangat berkurang. Respons tubuh terhadap perdarahan bergantung pada volume, kecepatan, dan lama perdarahan. Bila volume intravaskular berkurang, tubuh akan selalu berusaha untuk mempertahankan perfusi organ-organ vital (jantung dan otak) dengan mengorbankan perfusi organ lain seperti ginjal, hati, dan kulit. Akan terjadi perubahan-perubahan hormonal melalui sistem renin-angiotensin-aldosteron, sistem ADH, dan sistem saraf simpatis. Cairan interstitial akan masuk ke dalam pembuluh darah untuk mengembalikan volume intravaskular, dengan akibat terjadi hemodilusi (dilusi plasma protein dan hematokrit) dan dehidrasi interstitial.</p>
<p>Dengan demikain, tujuan utama dalam mengatasi syok perdarahan adalah menormalkan kembali volume intravaskular dan interstitial. Bila defisit volume intravaskular hanya dikoreksi dengan memberikan darah maka masih tetap terjadi defisit interstitial, dengan akibat tanda-tanda vital yang masih belum stabil dan produksi urin yang kurang. Pengembalian volume plasma dan interstitial ini hanya mungkin bila diberikan kombinasi cairan koloid (darah, plasma, dextran, dsb) dan cairan garam seimbang.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Penatalaksanaan Syok Hipovolemik</span></p>
<p>Pasang satu atau lebih jalur infus intravena no. 18/16. Infus dengan cepat larutan kristaloid atau kombinasi larutan kristaloid dan koloid sampai vena (v. jugularis) yang kolaps terisi. Sementara, bila diduga syok karena perdarahan, ambil contoh darah dan mintakan darah. Bila telah jelas ada peningkatan isi nadi dan tekanan darah, infus harus dilambatkan. Bahaya infus yang cepat adalah udem paru, terutama pasien tua. Perhatian harus ditujukan agar jangan sampai terjadi kelebihan cairan.</p>
<p>Pemantauan yang perlu dilakukan dalam menentukan kecepatan infus:<br />
<br />Nadi: nadi yang cepat menunjukkan adanya hipovolemia.<br />
<br />Tekanan darah: bila tekanan darah <> 40 mmHg pada pasien hipertensi, menunjukkan masih perlunya transfusi cairan.<br />
<br />Produksi urin. Pemasangan kateter urin diperlukan untuk mengukur produksi urin. Produksi urin harus dipertahankan minimal 1/2 ml/kg/jam. Bila kurang, menunjukkan adanya hipovolemia. Cairan diberikan sampai vena jelas terisi dan nadi jelas teraba. Bila volume intra vaskuler cukup, tekanan darah baik, produksi urin < style="font-weight: bold;">Kesimpulan</span></p>
<p>Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama penderita mengalami syok.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Daftar Pustaka</span></p>
<p>1. Franklin C M, Darovic G O, Dan B B. Monitoring the Patient in Shock. Dalam buku: Darovic G O, ed, Hemodynamic Monitoring: Invasive and Noninvasive Clinical Application. USA : EB. Saunders Co. 1995 ; 441 &#8211; 499.<br />
<br />2. Alexander R H, Proctor H J. Shock. Dalam buku: Advanced Trauma Life Support Course for Physicians. USA, 1993 ; 75 &#8211; 94<br />
<br />3. Haupt M T, Carlson R W. Anaphylactic and Anaphylactoid Reactions. Dalam buku: Shoemaker W C, Ayres S, Grenvik A eds, Texbook of Critical Care. Philadelphia, 1989 ; 993 &#8211; 1002.<br />
<br />4. Thijs L G. The Heart in Shock (With Emphasis on Septic Shock). Dalam kumpulan makalah: Indonesian Symposium On Shock &amp; Critical Care. Jakarta-Indonesia, August 30 &#8211; September 1, 1996 ; 1 &#8211; 4.<br />
<br />5. Zimmerman J L, Taylor R W, Dellinger R P, Farmer J C, Diagnosis and Management of Shock, dalam buku: Fundamental Critical Support. Society of Critical Care Medicine, 1997.<br />
<br />6. Atkinson R S, Hamblin J J, Wright J E C. Shock. Dalam buku: Hand book of Intensive Care. London: Chapman and Hall, 1981; 18-29.<br />
<br />7. Wilson R F, ed. Shock. Dalam buku: Critical Care Manual. 1981; c:1-42.<br />
<br />8. Bartholomeusz L, Shock, dalam buku: Safe Anaesthesia, 1996; 408-413<br />
</div>
<p></div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-3533151368270786146?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/makalah-kehamilan-tak-diinginkan"  title="makalah Kehamilan Tak Diinginkan">makalah Kehamilan Tak Diinginkan</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Hipovolemik</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqg8UkMQDI/AAAAAAAAALM/mWqZNmgIs40/s320/Kardiogenik.jpg" alt="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" title="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik</a></h4><p>Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Syok kardiogenik ditandai ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ruptur-uteri.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-NL_trCYLDWc/TYqBi-b8qsI/AAAAAAAAAgA/Pm_-u9ZnN_o/s320/Ruptur%2Buteri.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN RUPTUR UTERI" title="ASUHAN KEPERAWATAN RUPTUR UTERI" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ruptur-uteri.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN RUPTUR UTERI</a></h4><p>A. PENGERTIAN? Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. ( buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal )? ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-hematemesis-melena.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTItIhr0-aI/AAAAAAAAASU/wLjplcjx1Po/s320/Hematemesis.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN HEMATEMESIS MELENA" title="ASUHAN KEPERAWATAN HEMATEMESIS MELENA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-hematemesis-melena.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN HEMATEMESIS MELENA</a></h4><p>PengertianHematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran faeses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-dangue-haemoragic-fever-demam-berdarah.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ4XhoAP9-I/AAAAAAAAANE/O1P58nC40Cc/s320/DHF.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN DANGUE HAEMORAGIC FEVER (DEMAM BERDARAH)" title="ASUHAN KEPERAWATAN DANGUE HAEMORAGIC FEVER (DEMAM BERDARAH)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-dangue-haemoragic-fever-demam-berdarah.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN DANGUE HAEMORAGIC FEVER (DEMAM BERDARAH)</a></h4><p>A. PengertianDHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES ( AEDES ALBOPICTUS ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TRRXPdi7sYI/AAAAAAAAAQM/jn9-x_qydSA/s320/Gagal%2BGinjal.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS" title="ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS</a></h4><p>Gagal Ginjal AkutI. DEFINISI? Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya? Suatu bahan yang biasanya ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 20:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Emboli]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal Jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Otot]]></category>
		<category><![CDATA[Infark Miokard Akut]]></category>
		<category><![CDATA[Iske]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kardiogenik]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mampu]]></category>
		<category><![CDATA[masalah keperawatan jantung koroner]]></category>
		<category><![CDATA[Menurunkan Tekanan Darah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitral Regurgitation]]></category>
		<category><![CDATA[Oksigen]]></category>
		<category><![CDATA[PENATALAKSANAAN]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Syok]]></category>
		<category><![CDATA[Syok Kardiogenik]]></category>
		<category><![CDATA[Tekanan Darah Arteri]]></category>
		<category><![CDATA[Torak]]></category>
		<category><![CDATA[Valvular Heart Disease]]></category>
		<category><![CDATA[Valvular Stenosis]]></category>
		<category><![CDATA[Ventrikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html</guid>
		<description><![CDATA[Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Syok kardiogenik ditandai oleh gangguan fungsi ventrikel, yang mengakibatkan gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan. Ventrikel kiri gagal bekerja sebagai pompa dan tidak mampu menyediakan curah jantung yang memadai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqg8UkMQDI/AAAAAAAAALM/mWqZNmgIs40/s1600/Kardiogenik.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 164px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqg8UkMQDI/AAAAAAAAALM/mWqZNmgIs40/s320/Kardiogenik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551426448860659762" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">Syok kardiogenik </span>disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Syok kardiogenik ditandai oleh gangguan fungsi ventrikel, yang mengakibatkan gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan.</div>
<div style="text-align: justify;">Ventrikel kiri gagal bekerja sebagai pompa dan tidak mampu menyediakan curah jantung yang memadai untuk mempertahankan perfusi jaringan. Syok kardiogenik dapat didiagnosa dengan mengetahui adanya tanda-tanda syok dan dijumpai adanya penyakit jantung, seperti infark miokard yang luas, gangguan irama jantung, rasa nyeri daerah torak, atau adanya emboli paru, tamponade jantung, kelainan katub atau sekat jantung.</p>
<p>Masalah yang ada adalah kurangnya kemampuan jantung untuk berkontraksi. Tujuan utama pengobatan adalah meningkatkan curah jantung.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Etiologi Syok Kardiogenik</span><br />1. Gangguan kontraktilitas miokardium.<br />2. Disfungsi ventrikel kiri yang berat yang memicu terjadinya kongesti paru dan/atau hipoperfusi iskemik.<br />3. Infark miokard akut ( AMI),<br />4. Komplikasi dari infark miokard akut, seperti: ruptur otot papillary, ruptur septum, atau infark ventrikel kanan, dapat mempresipitasi (menimbulkan/mempercepat) syok kardiogenik pada pasien dengan infark-infark yang lebih kecil.<br />5. Valvular stenosis.<br />6. Myocarditis ( inflamasi miokardium, peradangan otot jantung).<br />7. Cardiomyopathy ( myocardiopathy, gangguan otot jantung yang tidak diketahui penyebabnya ).<br />8. Acute mitral regurgitation.<br />9. Valvular heart disease.<br />10. Hypertrophic obstructive cardiomyopathy.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Patofisiologi Syok Kardiogenik</span><br />Tanda dan gejala syok kardiogenik mencerminkan sifat sirkulasi patofisiologi gagal jantung. Kerusakan jantung mengakibatkan penurunan curah jantung, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah arteri ke organ-organ vital. Aliran darah ke arteri koroner berkurang, sehingga asupan oksigen ke jantung menurun, yang pada gilirannya meningkatkan iskemia dan penurunan lebih lanjut kemampuan jantung untuk memompa, akhirnya terjadilah lingkaran setan.<br />Tanda klasik syok kardiogenik adalah tekanan darah rendah, nadi cepat dan lemah, hipoksia otak yang termanifestasi dengan adanya konfusi dan agitasi, penurunan haluaran urin, serta kulit yang dingin dan lembab.<br />Disritmia sering terjadi akibat penurunan oksigen ke jantung.seperti pada gagal jantung, penggunaan kateter arteri pulmonal untuk mengukur tekanan ventrikel kiri dan curah jantung sangat penting untuk mengkaji beratnya masalah dan mengevaluasi penatalaksanaan yang telah dilakukan. Peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri yang berkelanjutan (LVEDP = Left Ventrikel End Diastolik Pressure) menunjukkan bahwa jantung gagal untuk berfungsi sebagai pompa yang efektif.<br />Menurut Mubin (2008), diagnosis syok kardiogenik adalah berdasarkan:</p>
<p><span style="font-weight: bold;">A. Keluhan Utama Syok Kardiogenik</span><br />1. Oliguri (urin < style="font-weight: bold;">B. Tanda Penting Syok Kardiogenik<br />1. Tensi turun < style="font-weight: bold;">Komplikasi Syok Kardiogenik<br />1. Cardiopulmonary arrest<br />2. Disritmi<br />3. Gagal multisistem organ<br />4. Stroke<br />5. Tromboemboli</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Penatalaksanaan Medis Syok Kardiogenik :</span></p>
<p>1. Patikan jalan nafas tetap adekuat, bila tidak sadar sebaiknya dilakukan intubasi.</p>
<p>2. Berikan oksigen 8 &#8211; 15 liter/menit dengan menggunakan masker untuk mempertahankan PO2 70 &#8211; 120 mmHg</p>
<p>3. Rasa nyeri akibat infark akut yang dapat memperbesar syok yang ada harus diatasi dengan pemberian morfin.</p>
<p>4.  Koreksi hipoksia, gangguan elektrolit, dan keseimbangan asam basa yang terjadi.</p>
<p>5.  Bila mungkin pasang CVP.</p>
<p>6.  Pemasangan kateter Swans Ganz untuk meneliti hemodinamik.</p>
<p>Medikamentosa :<br />1. Morfin sulfat 4-8 mg IV, bila nyeri.<br />2. Anti ansietas, bila cemas.<br />3. Digitalis, bila takiaritmi dan atrium fibrilasi.<br />4. Sulfas atropin, bila frekuensi jantung < style="font-weight: bold;">4. Terapi reperfusi<br />Reperfusi miokardium iskemik merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan infark miokard akut dan syok kardiogenik.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Kesimpulan</span></p>
<p>Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama penderita mengalami syok.</p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">Daftar Pustaka</span></div>
<p>1. Alexander R H, Proctor H J. Shock. Dalam buku: Advanced Trauma Life Support Course for Physicians. USA, 1993 ; 75 &#8211; 94<br />2. Atkinson R S, Hamblin J J, Wright J E C. Shock. Dalam buku: Hand book of Intensive Care. London: Chapman and Hall, 1981; 18-29.<br />3. Bartholomeusz L, Shock, dalam buku: Safe Anaesthesia, 1996; 408-413<br />4. Franklin C M, Darovic G O, Dan B B. Monitoring the Patient in Shock. Dalam buku: Darovic G O, ed, Hemodynamic Monitoring: Invasive and Noninvasive Clinical Application. USA : EB. Saunders Co. 1995 ; 441 &#8211; 499.<br />5. Haupt M T, Carlson R W. Anaphylactic and Anaphylactoid Reactions. Dalam buku: Shoemaker W C, Ayres S, Grenvik A eds, Texbook of Critical Care. Philadelphia, 1989 ; 993 &#8211; 1002.<br />6. Leksana E. Terapi Cairan dan Elektrolit. SMF/Bagian Anestesi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP). Semarang. 2004:18.<br />7. Thijs L G. The Heart in Shock (With Emphasis on Septic Shock). Dalam kumpulan makalah: Indonesian Symposium On Shock &amp; Critical Care. Jakarta-Indonesia, August 30 &#8211; September 1, 1996 ; 1 &#8211; 4.<br />8. Wilson R F, ed. Shock. Dalam buku: Critical Care Manual. 1981; c:1-42.<br />9. Zimmerman J L, Taylor R W, Dellinger R P, Farmer J C, Diagnosis and Management of Shock, dalam buku: Fundamental Critical Support. Society of Critical Care Medicine, 1997.</p>
<p>Tags : <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com" target="_blank" >Asuhan Keperawatan</a>, <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok_16.html" target="_blank" >Syok Kardiogenik</a></div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-228639918970176904?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/lp-gangguan-cairan-dan-elektrolit"  title="lp gangguan cairan dan elektrolit">lp gangguan cairan dan elektrolit</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/masalah-keperawatan-jantung-koroner"  title="masalah keperawatan jantung koroner">masalah keperawatan jantung koroner</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/etiologi-nyeri"  title="etiologi nyeri">etiologi nyeri</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/makalah-kesehatan-jantung"  title="makalah kesehatan jantung">makalah kesehatan jantung</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/pohon-faktor-askep-hematemesis"  title="pohon faktor askep hematemesis">pohon faktor askep hematemesis</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqfV8z6J5I/AAAAAAAAALE/VBCpmdaAQjY/s320/SHOCK.jpg" alt="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Hipovolemik" title="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Hipovolemik" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-hipovolemik.html"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Hipovolemik</a></h4><p>Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1MAPneBCI/AAAAAAAAAMs/K6J3McbXGkI/s320/Payah%2BJantung.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" title="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)</a></h4><p>DEFINISISuatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-syock.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTYUeoSRr7I/AAAAAAAAAVU/JEKbJvB2KD4/s320/Syok.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN SYOCK" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN SYOCK" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-syock.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN SYOCK</a></h4><p>I. Definisi :? Syok Suatu keadaan / syndrome gangguan perfusi jaringan yang menyeluruh sehingga tidak terpenuhinya kebutuhan metabolisme jaringan.(Rupii, 2005)? Keadaan kritis akibat kegagalan sistem ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuHT0N4cTI/AAAAAAAAAXU/8QKaJrWcsLk/s320/Jantung.jpg" alt="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" title="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark">FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)</a></h4><p>Jantung mendapatkan aliran darah dari arteri koronaria. Sirkulasi koronaria meliputi seluruh permukaan jantung, membawa oksigen dan nutrisi ke miokardium melalui cabang-cabang intramiokardium yang kecil-kecil. Untuk ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-aritmia.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_q34b9TV8AmQ/SUS42iMv2VI/AAAAAAAAAhc/YnISa6tf7HU/s200/jantung.gif" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PADA ARITMIA" title="ASUHAN KEPERAWATAN PADA ARITMIA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-aritmia.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PADA ARITMIA</a></h4><p>DefinisiGangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 21:22:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran Udara]]></category>
		<category><![CDATA[Alkalosis]]></category>
		<category><![CDATA[Alveolus]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada pasien post op sc]]></category>
		<category><![CDATA[askep penyakit asma]]></category>
		<category><![CDATA[ASMA]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada pasien hipotensi]]></category>
		<category><![CDATA[Barel]]></category>
		<category><![CDATA[Basah]]></category>
		<category><![CDATA[Batuk]]></category>
		<category><![CDATA[Belum Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Bronchi]]></category>
		<category><![CDATA[BRONKIAL]]></category>
		<category><![CDATA[Cemas]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Otot Polos]]></category>
		<category><![CDATA[Pernafasan]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumonia Mycoplasmal]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi Udara]]></category>
		<category><![CDATA[Rochi]]></category>
		<category><![CDATA[Rokok]]></category>
		<category><![CDATA[Smeltzer]]></category>
		<category><![CDATA[Tegang]]></category>
		<category><![CDATA[Tekanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html</guid>
		<description><![CDATA[1.PENGARTIAN Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.( Huddak &#38; Gallo, 1997 )Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.( Smeltzer, 2002 : 611)Asma adalah obstruksi jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvtAynHfdI/AAAAAAAAALU/aDsIE8vzBMc/s1600/Asma%2BBronkial.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 254px; height: 146px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvtAynHfdI/AAAAAAAAALU/aDsIE8vzBMc/s320/Asma%2BBronkial.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551791563505892818" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">1.PENGARTIAN</span></div>
<div style="text-align: justify;">
<div style="text-align: justify;"><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Asma Bronkial</span> adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.<br />( Huddak &amp; Gallo, 1997 )<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Asma</span> adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.<br />( Smeltzer, 2002 : 611)<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Asma</span> adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif. (Reeves, 2001 : 48)</div>
<p><span style="font-weight: bold;">2. PENYEBAB</span><br />a. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)<br />- Reaksi antigen-antibodi<br />- Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)<br />b. Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)<br />- Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal<br />- Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur<br />- Iritan : kimia<br />- Polusi udara : CO, asap rokok, parfum<br />- Emosional : takut, cemas dan tegang<br />- Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.<br />(Suriadi, 2001 : 7)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. TANDA DAN GEJALA</span><br />1. Stadium dini<br />Faktor hipersekresi yang lebih menonjol<br />a. Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek<br />b. Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul<br />c. Whezing belum ada<br />d. Belum ada kelainan bentuk thorak<br />e. Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E<br />f. BGA belum patologis</p>
<p>Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan<br />a. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum<br />b. Whezing<br />c. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi<br />d. Penurunan tekanan parsial O2</p>
<p>2. Stadium lanjut/kronik<br />a. Batuk, ronchi<br />b. Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan<br />c. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan<br />d. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)<br />e. Thorak seperti barel chest<br />f. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus<br />g. Sianosis<br />h. BGA Pa O2 kurang dari 80%<br />i. Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri<br />j. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik<br />(Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">4. PATOFISIOLOGIS</span></p>
<div style="text-align: center;">KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR</div>
<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvuJ6SCSSI/AAAAAAAAALc/RCRMMRvqY18/s1600/ASMA.jpg" target="_blank" ><img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 387px; height: 384px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvuJ6SCSSI/AAAAAAAAALc/RCRMMRvqY18/s320/ASMA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551792819695405346" border="0" /></a></p>
<p><span style="font-weight: bold;">ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASMA BRONKIAL</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">5. TANDA DAN GEJALA</span><br />- Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/tanpa stetoskop<br />- Batuk produktif, sering pada malam hari<br />- Nafas atau dada seperti tertekan, ekspirasi memanjang</p>
<p><span style="font-weight: bold;">6. PEMERIKSAAN PENUNJANG</span><br />- Spirometri<br />- Uji provokasi bronkus<br />- Pemeriksaan sputum<br />- Pemeriksaan cosinofit total<br />- Uji kulit<br />- Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum<br />- Foto dada<br />- Analisis gas darah</p>
<p><span style="font-weight: bold;">7. PENGKAJIAN</span><br />a. Awitan distres pernafasan tiba-tiba<br />-  Perpanjangan ekspirasi mengi<br />-  Penggunaan otot-otot aksesori          <br />-  Perpendekan periode inpirasi<br />-  Sesak nafas<br />-  Restraksi interkostral dan esternal<br />-  Krekels<br />b. Bunyi nafas : mengi, menurun, tidak terdengar<br />c. Duduk dengan posisi tegak : bersandar kedepan<br />d. Diaforesis<br />e. Distensi vera leher<br />f. Sianosis : area sirkumoral, dasar kuku<br />g. Batuk keras, kering : batuk produktif sulit<br />h. Perubahan tingkat kesadaran<br />i. Hipokria<br />j. Hipotensi<br />k. Pulsus paradoksus > 10 mm<br />l. Dehidrasi<br />m. Peningkatan anseitas : takut menderita, takut mati<br /><span style="font-weight: bold;">8. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL</span><br />-  Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d bronkospasme : peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental : penurunan energi/kelemahan<br />-  Kerusakan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen, kerusakan alveoli<br />-  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan masukan oral<br />-  Kurang pengetahuan b.d kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi<br /><span style="font-weight: bold;">    </span> <span style="font-weight: bold;">9. INTERVENSI KEPERAWATAN</span><br />DP            : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas<br />Tujuan    : Bersihan jalan nafas efektif<br />KH    :<br />- Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas<br />- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas<br />mis : batuk efektif dan mengeluarkan sekret<br />Intervensi<br />? Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, mis; mengi, krekels, ronki<br />? Kaji/pantau frekuensi pernafasan<br />? Catat adanya/derajat diespnea  mis : gelisah, ansietas, distres pernafasan, penggunaan otot bantu<br />? Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis : peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur<br />? Pertahankan polusi lingkungan minimum<br />? Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir<br />? Observasi karakteristik batuk mis : menetap, batuk pendek, basah<br />? Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hr ss toleransi jantung dan memberikan air hangat, anjurkan masukkan cairan sebagai ganti makanan<br />? Berikan obat sesuai indikasi<br />? Awasi/buat grafik seri GDA, nadi oksimetri, foto dada</p>
<p>DP           :  Kerusakan pertukaran gas<br />Tujuan    :  Pertukaran gas efektie dan adekuat<br />KH      :<br />-Menunjukkan perbaikan vertilasi dan oksigen jaringan adekuat dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan<br />-Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan /situasi          <br />Intervensi<br />? Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidak mampuan bicara/berbincang<br />? Tingguikan kepala tempat tidur, pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan / nafas bibir sesuai kebutuhan / toleransi individu.<br />? Dorong mengeluarkan sputum : penguapan bila diindikasikan.<br />? Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan / bunyi tambahan.<br />? Awasi tingkat kesadaran / status mental, selidiki adanya perubahan.<br />? Evaluasi tingkat toleransi aktivitas.<br />? Awasi tanda vital dan irama jantung.<br />? Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.<br />? Berikan oksigen yang ssi idikasi hasil GDA dan toleransi pasien.</p>
<p>DP           : Perubahan nutrisi kurang dari tubuh<br />Tujuan    : Kebutuhan nutrisi terpenuhi<br />Kh    :<br />- Menunjukan peningkatan BB<br />- Menunjukan perilaku / perubahan pada hidup untuk meningkatkan dan / mempertahanka berat yang tepat.<br />Intervensi :<br />- Kaji kebiasaan diet, masukan makanan, catat derajat kesulitan makan, evaluasi BB.<br />- Avskultasi bunyi usus.<br />- Berikan perawatan oral sering, buang sekret.<br />- Dorong periode istirahat, 1jam sebelum dan sesudah makan berikan makan porsi kecil tapi sering.<br />- Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.<br />- Hindari maknan yang sangat panas / dingin.<br />- Timbang BB sesuai induikasi.<br />- Kaji pemeriksaan laboratorium, ex : alb.serum.</p>
<p>DP             : Kurang  pengetahuan<br />Tujuan      : Pengetahuan miningkat<br />KH     :<br />- Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan.<br />- Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubung dengan faktor penyebab.<br />- Melakukan perubahan pola hidup dan berparisipasi dalam program pengobatan.<br />Intervensi:<br />- Jelaskan proses penyakit individu dan keluarga<br />- Instrusikan untuk latihan nafas dan batuk efektif.<br />- Diskusikan tentang obat yang digunakan, efek samping, dan reaksi yang tidak diinginkan<br />- Beritahu tehnik pengguanaan inhaler ct : cara memegang, interval semprotan, cara membersihkan.<br />- Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi<br />- Beritahu efek bahaya merokok dan nasehat untuk berhenti merokok pada klien atau orang terdekat<br />- Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas.</p>
<p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">DAFTAR PUSTAKA</span></div>
<p>Arif Mansyoer(1999). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jilid I. Media    Acsulapius. FKUI. Jakarta.</p>
<p>Heru Sundaru(2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. BalaiPenerbit FKUI. Jakarta.</p>
<p>Hudack&amp;gallo(1997). Keperawatan Kritis Edisi VI Vol I. Jakarta. EGC.</p>
<p>Doenges, EM(2000).<span style="font-weight: bold; font-style: italic;"> Rencana Asuhan Keperawatan</span>. Jakarta. EGC.</p>
<p>Tucker, SM(1998). Standar Perawatan Pasien. Jakarta. EGC.</p>
</div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-4296340110742650699?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/posisi-asuhan-keperawatan"  title="posisi asuhan keperawatan">posisi asuhan keperawatan</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/edema-paru-dengan-ckd"  title="edema paru dengan ckd">edema paru dengan ckd</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/faktor-ekstrinsik-dan-intrinsik-dari-suatu-penyakit"  title="faktor ekstrinsik dan intrinsik dari suatu penyakit">faktor ekstrinsik dan intrinsik dari suatu penyakit</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/intervensi-gangguan-pola-tidur-pada-penyakit-asam-urat"  title="intervensi gangguan pola tidur pada penyakit asam urat">intervensi gangguan pola tidur pada penyakit asam urat</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/laporan-pendahuluan-gangguan-pola-nafas-oksigenasi"  title="laporan pendahuluan gangguan pola nafas ( oksigenasi )">laporan pendahuluan gangguan pola nafas ( oksigenasi )</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTWS9uB9_iI/AAAAAAAAAUs/5B4RV14mDc4/s320/PPOM.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" title="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)</a></h4><p>PPOM (Penyakit Paru Obtruksi Menahun) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner &amp; Suddarth, 2002)PPOM merupakan kondisi ireversibel ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvyU4P024I/AAAAAAAAALs/TB7cahW2ys0/s320/BRONKIEKTASIS%2B2.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS</a></h4><p>KONSEP DASARA. Pengertian.? Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus ( ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv188MHyvI/AAAAAAAAAL0/L8Sm1R9fBDQ/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)</a></h4><p>Konsep Dasar1. DefinisiPneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTTHVqiKkBI/AAAAAAAAAUk/Pu1RhGtCgGU/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)</a></h4><p>1. DEFINISIPneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yangumumnya disebabkan oleh agent infeksi2. ETIOLOGIPneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-asma.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_q34b9TV8AmQ/SUTMeFkT7rI/AAAAAAAAAhs/4nsnHVomSVE/s200/asma1.JPG" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA" title="ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-asma.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA</a></h4><p>PengertianAsma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversibledimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 22:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep nyeri post sc]]></category>
		<category><![CDATA[askep obstruksi saluran nafas atas]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada pre dan post operasi sistem pernafasan]]></category>
		<category><![CDATA[Aspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan obstruksi saluran nafas]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan klinik kasus pneumonia]]></category>
		<category><![CDATA[Batuk Darah]]></category>
		<category><![CDATA[Berat]]></category>
		<category><![CDATA[BRONKIEKTASIS]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Dinding]]></category>
		<category><![CDATA[Kadang Kadang]]></category>
		<category><![CDATA[Kanak Kanak]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lemah]]></category>
		<category><![CDATA[Mengandung]]></category>
		<category><![CDATA[Neoplasma]]></category>
		<category><![CDATA[Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Patologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilek]]></category>
		<category><![CDATA[PLEURA]]></category>
		<category><![CDATA[Sering]]></category>
		<category><![CDATA[Sesak Nafas]]></category>
		<category><![CDATA[Sianosis]]></category>
		<category><![CDATA[Sputum]]></category>
		<category><![CDATA[Tanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html</guid>
		<description><![CDATA[KONSEP DASARA. Pengertian.? Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus ( Soeparman &#38; Sarwono, 1990)? Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pnemonitis berulang dan memanjang,aspirasi benda asing, atau massa ( mis. Neoplasma) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvyU4P024I/AAAAAAAAALs/TB7cahW2ys0/s1600/BRONKIEKTASIS%2B2.jpg" target="_blank" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 196px; height: 189px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvyU4P024I/AAAAAAAAALs/TB7cahW2ys0/s320/BRONKIEKTASIS%2B2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551797406174337922" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">KONSEP DASAR</span><br /><span style="font-weight: bold;">A. Pengertian.</span><br />? <span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Bronkiektasis</span>  merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang  abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular  dinding bronkus ( Soeparman &amp; Sarwono, 1990)<br />? <span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Bronkiektasis</span>  berarti suatu  dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang  disebabkan oleh episode pnemonitis  berulang dan memanjang,aspirasi  benda asing, atau massa ( mis. Neoplasma) yang menghambat lumen  bronchial dengan obstruksi ( Hudak &amp; Gallo,1997).<br />? <span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Bronkiektasis</span> adalah dilatasi permanen abnormal dari salah satu atau lebih cabang-vabang bronkus yang besar ( Barbara E, 1998).</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. Klasifikasi</span><br />Berdasarkan atas bronkografi dan patologi bronkiektasis dapat dibagi menjadi 3 yaitu :<br />1. Bronkiektasis silindris<br />2. Bronkiektasis fusiform<br />3. Bronkiektasis kistik atau sakular.<br /><span style="font-weight: bold;">C. Etiologi</span><br />1. Infeksi<br />2. Kelainan heriditer atau kelainan konginetal<br />3. Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi<br />4.  Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak,  batuk rejan,  atau penyakit menular lainnya semasa kanak-kanak.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">D. PATOFISIOLOGIS</span>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p>KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR
<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvx331NJDI/AAAAAAAAALk/m9sprCgugvA/s1600/BRONKIEKTASIS.jpg" target="_blank" ><img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 407px; height: 328px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvx331NJDI/AAAAAAAAALk/m9sprCgugvA/s320/BRONKIEKTASIS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551796907846476850" border="0" /></a></p>
<p><span style="font-weight: bold;">E. Gambaran Klinis</span><br />Bronkiektasis  merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia muda, 69 % penderita  berumur  kurang dari 20 tahun. Gejala dimulai sejak masa kanak-kanak, 60  % dari penderita gejalanya timbul sejak umur kurang dari 10 tahun.  Gejalanya tergantung dari luas, berat, lokasi ada atau tidaknya  komplikasi.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">F. Tanda dan Gejala</span><br />1. Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama pada pagi hari,setelah tiduran dan berbaring.<br />2. Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek  selama 1-2 minggu atau tidak ada gejala sama sekali ( Bronkiektasis ringan )<br />3.  Batuk  yang terus menerus dengan sputum yang banyak kurang lebih    200  &#8211; 300 cc, disertai demam, tidak ada nafsu makan, penurunan berat badan,  anemia, nyeri pleura, dan lemah badan  kadang-kadang sesak nafas dan  sianosis, sputum sering mengandung bercak darah,dan batuk darah.<br />4. Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">G. Pemeriksaan Diagnostik</span><br />1. Pemerisaan Laboratorium.<br />? Pemeriksaan sputum meliputi Volume sputum, warna sputum, sel-sel dan bakteri dalam sputum.<br />Bila  terdapat infeksi volume sputum akan meningkat, dan menjadi purulen dan  mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri. Biakan sputum dapat  menghasilkan flora normal dari nasofaring, streptokokus pneumoniae,  hemofilus influenza, stapilokokus aereus,klebsiela, aerobakter,proteus,  pseudomonas aeroginosa. Apabila ditemukan sputum berbau busuk   menunjukkan adanya infeksi kuman anaerob.<br />? Pemeriksaan darah tepi.<br />Biasanya  ditemukan dalam batas normal. Kadang  ditemukan adanya leukositosis  menunjukkan adanya supurasi yang aktif dan anemia menunjukkan adanya  infeksi yang menahun.<br />? Pemeriksaan urina<br />Ditemukan dalam batas  normal, kadang  ditemukan adanya proteinuria yang bermakna yang  disebabkan oleh amiloidosis, Namun Imunoglobulin serum biasanya dalam  batas normal Kadan bisa meningkat atau menurun.<br />? Pemeriksaan EKG<br />EKG  biasa dalam batas normal kecuali pada kasus lanjut yang sudah ada  komplikasi korpulmonal atau tanda pendorongan jantung. Spirometri pada  kasus ringan mungkin normal tetapi pada kasus berat ada kelainan  obstruksi dengan penurunan volume ekspirasi paksa 1 menit  atau  penurunan kapasitas vital, biasanya disertai insufisiensi pernafasan   yang dapat mengakibatkan :<br />? Ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi<br />? Kenaikan perbedaan tekanan PO2 alveoli-arteri<br />? Hipoksemia<br />? Hiperkapnia<br />? Pemeriksaan tambahan untuk mengetahui faktor predisposisi dilakukan pemerisaan :<br />o Pemeriksaan imunologi<br />o Pemeriksaan spermatozoa<br />o Biopsi bronkus dan mukosa nasal( bronkopulmonal berulang).</p>
<p>2. Pemeriksaan Radiologi.<br />• Foto dada  PA dan Lateral<br />Biasanya  ditemukan corakan paru menjadi lebih kasar  dan batas-batas corakan  menjadi kabur, mengelompok,kadang-kadang ada gambaran sarang tawon   serta gambaran kistik dan batas-batas permukaan udara cairan. Paling  banyak mengenai lobus paru kiri, karena mempunyai diameter yang lebih  kecil kanan dan letaknya menyilang mediastinum,segmen lingual lobus atas  kiri  dan lobus medius paru kanan.<br />• Pemeriksaan bronkografi<br />Bronkografi  tidak rutin dikerjakan namun bila ada indikasi dimana untuk  mengevaluasi penderita yang akan dioperasi yaitu pendereita dengan  pneumoni yang terbatas pada suatu tempat dan berulang yang tidak  menunjukkan perbaikan klinis setelah mendapat pengobatan konservatif   atau penderita dengan hemoptisis yang masif.<br />Bronkografi dilakukan  sertalah keadaan stabil,setalah pemberian antibiotik dan postural  drainage yang adekuat sehingga bronkus  bersih dari sekret..<br /><span style="font-weight: bold;">H. Penatalaksanaan</span><br />Tujuan pengobatan adalah memperbaiki drainage sekret dan mengobati infeksi.<br />Penatalaksanaan meliputi :<br />• Pemberian antibiotik dengan spekrum luas ( Ampisillin,Kotrimoksasol, atau amoksisilin ) selama 5- 7 hari pemberian<br />• Drainage postural dan latihan fisioterapi untuk pernafasan.serta batuk yang efektif untuk mengeluarkan sekret secara maksimal<br />Pada  saat dilakukan drainage perlu diberikan  bronkodilator  untuk mencegah  bronkospasme dan memperbaiki drainage sekret. Serta dilakukan hidrasi  yang adekuat untuk mencegah sekret menjadi kental dan dilengkapi dengan  alat pelembab serta nebulizer untuk melembabkan sekret.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">ASUHAN KEPERAWATAN.</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">A. Pengkajian data dasar</span><br />1. Riwayat atau adeanya faktor-faktor penunjang<br />• Merokok produk tembakau sebagai factor penyebab utama<br />• Tinggal atau bekerja daerah dengan polusi udara berat<br />• Riwayat alergi pada keluarga<br />• Ada riwayat asam pada masa anak-anak<br />2. Riwayat atau  adanya faktor-faktor pencetus eksaserbasi seperti :<br />• Allergen ( serbuk, debu, kulit, serbuk sari atau jamur)<br />• Sress emosional<br />• Aktivitas fisik yang berlebihan<br />• Polusi udara<br />• Infeksi saluran nafas<br />• Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan<br />3. Pemeriksaan fisik berdasarkan focus pada system pernafasan yang meliputi :<br />? Kaji frekuensi dan irama pernafasan<br />? Inpeksi warna kulit dan warna menbran mukosa<br />? Auskultasi bunyi nafas<br />? Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :<br />? Mengangkat bahu pada saat bernafas<br />? Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas<br />? Pernafasan cuping hidung<br />? Kaji bila ekspansi dada simetris atau asimetris<br />? Kaji bila nyeri dada pada pernafasan<br />? Kaji batuk (apakah produktif atau nonproduktif). Bila produktif tentukan warna sputum.<br />? Tentukan bila pasien mengalami  dispneu atau orthopneu<br />? Kaji tingkat kesadaran.<br />4. Pemeriksaan diagnostik meliputi :<br />? Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi<br />? Sinar X dada memunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume  cadangan<br />? Klutur sputum positif bila ada infeksi<br />? Esei imunoglobolin menunjukkan adanya peningkatan IgE serum<br />? Tes fungsi paru untuk mengetahui penyebab dispneu dan menentukan apakah fungsi abnormal paru ( obstruksi atau restriksi).<br />? Tes hemoglobolin.<br />? EKG ( peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF dan aksis vertikal.<br />5. Kaji persepsi diri pasien<br />6. Kaji berat badan dan masukan rata-rata cairan dan diet.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. Diagnosa keperawatan</span><br />1. Tak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau sekresi kental<br />2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli<br />3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,produksi sputum, dispneu<br />4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan proses penyakit kronis, malnutrisi.<br />5.  Ansietas berhubungan dengan takut kesulitan bernafas selama fase  eksaserbasi,  kurang pengetahuan tentang pengobatan yang akan  dilaksanakan<br />6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kerusakan pertukaran gas</p>
<p><span style="font-weight: bold;">C. Intervensi.</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi   sekret, sekret kental.</span><br />Tujuan :<br />Mempertahakan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas. <br />Kriteria hasil :<br />Menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas( batuk yang     efektif, dan mengeluarkan secret.<br />Rencana Tindakan :<br />1. Kaji /pantau frekuensi pernafasan.Catat rasio inspirasi dan ekspirasi<br />R/  Tachipneu biasanya ada pada beberapa derajat dapat ditemukan pada  penerimaan atau selam stress/ proses infeksi akut. Pernafasan melambat  dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi<br />2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas<br />R/ Derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat /tak dimanisfestasikan adanya bunyi nafas.<br />3. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman,Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran  tempat tidur<br />R/  Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan  mempergunakan gravitasi. Dan mempermudah untuk bernafas serta membantu  menurunkan kelemahan otot-otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.<br />4. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir<br />R/ Untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara<br />5. Observasi karakteriktik  batuk dan Bantu tindakan untuk efektifan upaya batuk<br />R/ Mengetahui keefktifan batuk<br />6.  Tingkatan masukan cairan samapi 3000ml/hari sesuai toleransi jantung  serta berikan hangat dan masukan cairan antara sebagai penganti makan<br />R/  Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret,mempermudah  pengeluaran.cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan antara  makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekana diafragma.<br />7. Berikan obat sesuai indikasi<br />R/ Mempercepat proses penyembuhan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan   kerusakan alveoli.    </span><br />Tujuan  : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat  dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.<br />Kriteria :<br />GDA  dalam batas normal, warna kulit membaik, frekuensi nafas 12-   24x/mt,bunyi nafas bersih, tidak ada batuk,frekuensi nadi  60-100x/mt,tidak dispneu.<br />Rencana Tindakan :<br />1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan serta catat penggunaan otot aksesori<br />R/ untuk mengevaluasi derajat distress pernafsan/ kronisnya suatu penyakit.<br />2.  Tingikan kepala tempat tidur dan Bantu untuk memilih posisi yang mudah  untuk bernafas .Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa<br />R/ Suplai oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas.<br />3. Dorong untuk pengeluaran sputum/ penghisapan bila ada indikasi<br />R/ Sputum menganggu proses pertukaran gas  serta penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif.<br />4. Awasi tingkat kesadaran / status mental<br />R/ Manisfestasi umum dari hipoksia<br />5. Awasi tanda vital dan status jantung<br />R/ Perubahan tekanan darah menunjukkan efek hipoksia sistemik pada fungsi jantung<br />6. Berikan oksigen tambahan dan pertahankan ventilasi mekanik dan Bantu intubasi<br />R/ Dapat memperbaiki atau mencegah terjadinya hipoksia dan kegagalan nafas serta tindakan untuk penyelamatan hidup.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,produksi sputum, dispneu</span><br />Tujuan  : Peningkatan dalam status nutrisi dan berta badan pasien<br />Kriteria hasil :<br />Pasien tidak mengalami kehilangan berat badan lebih lanjut atau mempertahankan berat badan.<br />Rencana tindakan :<br />1. Pantau masukan dan keluaran tiap 8 jam, jumlah makanan yang dikonsumsi serta timbang berta badan tiap minggu.<br />R/ Untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari yang diharapkan<br />2. Ciptakan suasana yang menyenangkan ,lingkungan yang bebas dari bau selama waktu makan<br />R/ suasana dan lingkungan yang tak sedap selama waktu makan dapat meyebakan anoreksia<br />3. Rujuk pasien ke ahli diet untuk memantau merencanakan makanan yang akan dikonsumsi<br />R/ Dapat membantu pasien dalam merencanakan makan dengan gisi yang sesuai.<br />4. Dorong klien untuk minum minimal 3 liter cairan perhari, jika tidak mendapat infus.<br />R/ untuk mengatasi dehidrasi pada pasien<br /><span style="font-weight: bold;">4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan proses penyakit kronis, malnutrisi. </span><br />Tujuan : Tidak terjadi/ adanya gejala –gejala infeksi<br />Kriteria hasil :<br />Tidak terjadi infeksi suhu tbuh berkisar 36-37 0c,Sel darah putih 5000-10000/mm.batuk produktif tidak ada.<br />Rencana intervensi :<br />1. Pantau suhu pasien tiap 4 jam, hasil kultur sputum dan hasil pemeriksaan leokusit serta warna dan konsistensi sputum<br />R/  Untuk mengidentifikasi  kemajuan yang dapat dicapai dan penyimpangan  dari sasaran yang diharapkan ( infeksi yang mungkin terjadi ).<br />2. Lakukan pemeriksaan sputum untuk pemeriksaan kultur.<br />R/ Dapat membantu menegakkan diagnosa infeksi saluran nafas dan mengidentifikasi kuman penyebabnya.<br />3. Berikan nutrisi yan adekuat<br />R/ malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahan terhadap infeksi.<br />4. Berikan antibiotik sesuai anjuran dan evaluasi keefektifannya<br />R/ Sebagai pencegahan dan pengobatan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">5.  Ansietas berhubungan dengan takut kesulitan bernafas selama fase  eksaserbasi,  kurang pengetahuan tentang pengobatan yang akan  dilaksanakan.</span><br />Tujuan : Hilangnya ansietas<br />Kriteria hasil :  Ekspresi wajah rileks, frekuensi nafas antara 12-24 x/mt,frekuensi   nadi 60-100x/mt.<br />Intervensi Keperawatan :<br />1. Selama periode distress pernafasan akut :<br />? Batasi jumlah dan frekuensi pengunjung<br />? Mulai berikan oksigen lewat kanula sebanyak 2 ltr/mt<br />? Demontrasikan untuk kontrol pernafasan<br />? Ijinkan seseorang untuk menemani pasien<br />? Pertahankan posisi fowler dengan posisi lengan menopang<br />R/ Membantu pasien untuk mengontrol keadaannya dengan meningkatkan relaksasi  dan meningkatkan jumlah udara yang masuk paru-paru<br />2.  Hindari pemberian informasi  dan instruksi yang bertele-tele/sederhana  mungkin ketika pasien mengalami distress dan lakukan pendekatan dengan  pasien secara tenang dan menyakinkan.<br />R/ Pasien dapat menerima  sedikit informasi dalam keadaan gelisah dan terlalu banyak informasi  dapat meningkatkan ansietas dan memberitauhkan apa yang diharpkan  makakan dapat membantu penurunan ansietas.<br />3. Gunakan obat sedatif sesui dengan yang diresepkan.<br />R/ Obat penenang dapat mengontrol tingkat ansietasnya.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kerusakan pertukaran gas</span><br />Tujuan :Klien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas<br />Kriteria hasil :<br />Menurunnya keluhan tentang napas pendek dan lemah dalam melaksanakan aktivitas<br />Rencana Tindakan<br />1. Pantau nadi dan frekuensi nafas sebelum dan sesudah aktivitas<br />R/ Mengidentifikasi kemabali penyimpangan tujuan yang diharapkan<br />2. Berikan bantuan dalam melaksanakan aktivitas sesuai yang diperlukan  dan dilakukan secara bertahap<br />R/ Dapat mengurangi pengunaan energi yang berlebihan<br />3. Anjurkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan makanan yang mudah dikunyah.<br />R/ Makanan dalam porsi besar sasah dikunyah dan memerlukan banyak energi</p>
<p></div>
<div style="font-weight: bold; text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA :</div>
<div style="text-align: justify;">Soeparman &amp; Sarwono W, (1998), Ilmu penyakit dalam Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta</p>
<p>Barbara E.,(1999), Rencana Asuhan keperawatan Medikal- Bedah Volume I, EGC, Jakarta</p>
<p>Barbara E.,(1999), Rencana Asuhan keperawatan Medikal- Bedah Volume  III, EGC, Jakarta</p>
<p>Barbara  C. long,( 1996), Perawatan Medikal Bedah : suatu pendekatan proses  keperawatan, Alih bahasa Yayasan ikatan alumni pendidikan keperawatan  bandung,Yayasan IAPK, Bandung</p>
<p>Hudak &amp; Gallo, ( 1997), Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik, EGC, Jakarta</p>
<p>Marylin E doengoes. (2000). Rencana Asuhan keperawatan Pedoman untuk Perencnaan /pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC.Jakarta.</p>
<p></div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-7103850736783879343?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-obstruksi-saluran-nafas-atas"  title="askep obstruksi saluran nafas atas">askep obstruksi saluran nafas atas</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/asuhan-keperawatan-obstruksi-saluran-nafas"  title="asuhan keperawatan obstruksi saluran nafas">asuhan keperawatan obstruksi saluran nafas</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-nyeri-post-sc"  title="askep nyeri post sc">askep nyeri post sc</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-pada-pre-dan-post-operasi-sistem-pernafasan"  title="askep pada pre dan post operasi sistem pernafasan">askep pada pre dan post operasi sistem pernafasan</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/pengertian-sekret"  title="pengertian sekret">pengertian sekret</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvtAynHfdI/AAAAAAAAALU/aDsIE8vzBMc/s320/Asma%2BBronkial.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" title="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL</a></h4><p>1.PENGARTIANAsma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.( Huddak ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTWS9uB9_iI/AAAAAAAAAUs/5B4RV14mDc4/s320/PPOM.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" title="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)</a></h4><p>PPOM (Penyakit Paru Obtruksi Menahun) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner &amp; Suddarth, 2002)PPOM merupakan kondisi ireversibel ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTTHVqiKkBI/AAAAAAAAAUk/Pu1RhGtCgGU/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)</a></h4><p>1. DEFINISIPneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yangumumnya disebabkan oleh agent infeksi2. ETIOLOGIPneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv188MHyvI/AAAAAAAAAL0/L8Sm1R9fBDQ/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)</a></h4><p>Konsep Dasar1. DefinisiPneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-empiema.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TRRROHvm58I/AAAAAAAAAP8/cxngwBe0src/s320/Empiema.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-empiema.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA</a></h4><p>A. DEFINISI Emphiema thoraksis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada kavitas pleural (Brunner and Suddart, 2000). Emphiema thorak juga ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 23:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Akut]]></category>
		<category><![CDATA[Alveoli]]></category>
		<category><![CDATA[artikel bronkopneumonia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep asma]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Bisa]]></category>
		<category><![CDATA[BRONKOPNEUMONIA]]></category>
		<category><![CDATA[Chlamydia]]></category>
		<category><![CDATA[Chlamydia Pneumoniae]]></category>
		<category><![CDATA[Difus]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Respirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hospital Acquired Pneumonia]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Konsolidasi]]></category>
		<category><![CDATA[Legionella]]></category>
		<category><![CDATA[Lobar Pneumonia]]></category>
		<category><![CDATA[Lobus]]></category>
		<category><![CDATA[lp bronkhopneumonia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[lp cairan elektrolit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah bronkopneumonia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mycoplasma]]></category>
		<category><![CDATA[pathway batu ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[pathway tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[Pernafasan]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumonia]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumonia Lobar]]></category>
		<category><![CDATA[Satu]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan keperawatan luka]]></category>
		<category><![CDATA[Tipe]]></category>
		<category><![CDATA[woc pneumonia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html</guid>
		<description><![CDATA[Konsep Dasar1. DefinisiPneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv188MHyvI/AAAAAAAAAL0/L8Sm1R9fBDQ/s1600/Pneumonia.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 233px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv188MHyvI/AAAAAAAAAL0/L8Sm1R9fBDQ/s320/Pneumonia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551801392962194162" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">Konsep Dasar</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. Definisi</span><br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Pneumonia</span> merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Pneumonia</span> adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Bronkopneumonia </span>digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).
<div style="text-align: justify;"><span style="font-weight: bold;">2. Klasifikasi Pneumonia</span><br />Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :<br />a. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :<br />? Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.<br />? Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.<br />b. Berdasarkan faktor lingkungan<br />? Pneumonia komunitas<br />? Pneumonia nosokomial<br />? Pneumonia rekurens<br />? Pneumonia aspirasi<br />? Pneumonia pada gangguan imun<br />? Pneumonia hipostatik<br />c. Berdasarkan sindrom klinis<br />? Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.<br />? Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.<br /><span style="font-weight: bold;">Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :</span><br />a. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.<br />b. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini  aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.<br />c. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.<br />d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. Etiologi</span><br />a. Bakteri<br />Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan  streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.<br />b. Virus<br />Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.<br />c. Jamur<br />Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.<br />d. Protozoa<br />Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">4. Pathways</span></p>
<div style="text-align: center;">KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR</div>
<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv3JSgNmKI/AAAAAAAAAL8/ycVdQVqK-dQ/s1600/Bronkopneumonia.jpg" target="_blank" ><img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 366px; height: 502px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv3JSgNmKI/AAAAAAAAAL8/ycVdQVqK-dQ/s320/Bronkopneumonia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551802704622098594" border="0" /></a></p>
<p><span style="font-weight: bold;">5. Manifestasi Klinis</span><br />a. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan<br />? Nyeri pleuritik<br />? Nafas dangkal dan mendengkur<br />? Takipnea<br />b. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi<br />? Mengecil, kemudian menjadi hilang<br />? Krekels, ronki, egofoni<br />c. Gerakan dada tidak simetris<br />d. Menggigil dan demam 38,8 ? C sampai 41,1?C, delirium<br />e. Diafoesis<br />f. Anoreksia<br />g. Malaise<br />h. Batuk kental, produktif<br />? Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat<br />i. Gelisah<br />j. Sianosis<br />? Area sirkumoral<br />? Dasar kuku kebiruan<br />k. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati</p>
<p><span style="font-weight: bold;">6. Pemeriksaan Penunjang</span><br />a. Sinar x    : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.<br />b. GDA    : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.<br />c. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah    : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.<br />d. JDL    : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.<br />e. Pemeriksaan serologi    : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.<br />f. LED    : meningkat<br />g. Pemeriksaan fungsi paru    : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.<br />h. Elektrolit    : natrium dan klorida mungkin rendah<br />i. Bilirubin    : mungkin meningkat<br />j. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka    :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">7. Penatalaksanaan</span><br />a. Kemoterapi<br />Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur spatum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989).<br />b. Pengobatan Umum<br />1. Terapi Oksigen<br />2. Hidrasi<br />Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral<br />3. Fisioterapi<br />Pendrita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">8. Pengkajian Keperawatan</span><br />a. Aktivitas / istirahat<br />Gejala    : kelemahan, kelelahan, insomnia<br />Tanda    : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas<br />b. Sirkulasi<br />Gejala    : riwayat gagal jantung kronis<br />Tanda    : takikardi, penampilan keperanan atau pucat<br />c. Integritas Ego<br />Gejala    : banyak stressor, masalah finansial<br />d. Makanan / Cairan<br />Gejala    : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM<br />Tanda    : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor<br />buruk, penampilan malnutrusi<br />e. Neurosensori<br />Gejala    : sakit kepala dengan frontal<br />Tanda    : perubahan mental<br />f. Nyeri / Kenyamanan<br />Gejala    : sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia, atralgia<br />g. Pernafasan<br />Gejala    : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal<br />Tanda    : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen<br />Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi  pleural<br />Bunyi nafas  : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial<br />Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi<br />Warna  : pucat atau sianosis bibir / kuku<br />h. Keamanan<br />Gejala    : riwayat gangguan sistem imun, demam<br />Tanda       : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada kasus rubeda / varisela<br />i. Penyuluhan<br />Gejala    : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis</p>
<p><span style="font-weight: bold;">II. Rencana Keperawatan</span><br />1. Diagnosa Perawatan : kebersihan jalan nafas tidak efektif<br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum<br />? Nyeri pleuritik<br />? Penurunan energi, kelemahan<br />Kemungkinan dibuktikan dengan :<br />? Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan<br />? Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori<br />? Dispnea, sianosis<br />? Bentuk efektif / tidak efektif dengan / tanpa produksi sputum<br />Kriteria Hasil :<br />? Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas<br />? Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea atau sianosis<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Kali frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada<br />? Auskultasi paru catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi)<br />? Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam<br />? Penghisapan sesuai indikasi<br />? Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari<br />? Kolaborasi<br />? Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain<br />? Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspetoran, bronkodilator, analgesik<br />? Berikan cairan tambahan<br />? Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri<br />? Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. Diagnosa Perawatan : kerusakan pertukaran gas dapat dihubungkan dengan</span><br />? Perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi)<br />? Gangguan kapasitas oksigen darah<br />Kemungkinan dibuktikan oleh :<br />? Dispnea, sianosis<br />? Takikandi<br />? Gelisah / perubahan mental<br />? Hipoksia<br />Kriteria Hasil :<br />? Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan<br />? Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas<br />? Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku<br />? Kaji status mental<br />? Awasi status jantung / irama<br />? Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil<br />? Pertahankan istirahat tidur<br />? Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif<br />? Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah / perasaan.<br />? Kolaborasi<br />? Berikan terapi oksigen dengan benar<br />? Awasi GDA</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. Diagnosa Perawatan : pola nafas tidak efektif</span><br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Proses inflamasi<br />? Penurunan complience paru<br />? Nyeri<br />Kemungkinan dibuktikan oleh :<br />? Dispnea, takipnea<br />? Penggunaan otot aksesori<br />? Perubahan kedalaman nafas<br />? GDA abnormal<br />Kriteria Hasil :<br />? Menunjukkan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada<br />? Auskultasi bunyi nafas<br />? Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi<br />? Observasi pola batuk dan karakter sekret<br />? Dorong / bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif<br />? Kolaborasi<br />? Berikan Oksigen tambahan<br />? Awasi GDA<br /><span style="font-weight: bold;">4. Diagnosa Perawatan : peningkatan suhu tubuh</span><br />Dapat dihubungkan  : proses infeksi<br />Kemungkinan dibuktukan oleh :<br />? Demam, penampilan kemerahan<br />? Menggigil, takikandi<br />Kriteria Hasil :<br />? Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh<br />? Tidak menggigil<br />? Nadi normal<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Obeservasi suhu tubuh (4 jam)<br />? Pantau warna kulit<br />Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan<br />? Kolaborasi<br />? Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik<br />? Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari</p>
<p><span style="font-weight: bold;">5. Diagnosa Perawatan : resiko tinggi penyebaran infeksi</span><br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Ketidakadekuatan pertahanan utama<br />? Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun)<br />Kemungkinan dibuktikan oleh :<br />? Tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual<br />Kriteria Hasil :<br />? Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi<br />? Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Pantau TTV<br />? Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret<br />? Dorong teknik mencuci tangan dengan baik<br />? Ubah posisi dengan sering<br />? Batasi pengunjung sesuai indikasi<br />? Lakukan isolasi pencegahan sesuai individu<br />? Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.<br />? Kolaborasi<br />? Berikan antimikrobal sesuai indikasi</p>
<p><span style="font-weight: bold;">6. Diagnosa Perawatan : intoleran aktivitas</span><br />Dapat dihubungkan dengan<br />? Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen<br />? Kelemahan, kelelahan<br />Kemungkinan dibuktikan dengan :<br />? Laporan verbal kelemahan, kelelahan dan keletihan<br />? Dispnea, takipnea<br />? Takikandi<br />? Pucat / sianosis<br />Kriteria Hasil :<br />? Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan dan TTV dalam rentang normal<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Evaluasi respon klien terhadap aktivitas<br />? Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung<br />? Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat<br />? Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur<br />? Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">7. Diagnosa Perawatan : Nyeri</span><br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Inflamasi parenkim paru<br />? Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin<br />? Batuk menetap<br />Kemungkinan dibuktikan dengan :<br />? Nyeri dada<br />? Sakit kepala, nyeri sendi<br />? Melindungi area yang sakit<br />? Perilaku distraksi, gelisah<br />Kriteria Hasil :<br />? Menyebabkan nyeri hilang / terkontrol<br />? Menunjukkan rileks, istirahat / tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Tentukan karakteristik nyeri<br />? Pantau TTV<br />? Ajarkan teknik relaksasi<br />? Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">8. Diagnosa Perawatan : resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh</span><br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi<br />? Anoreksia distensi abdomen<br />Kriteria Hasil :<br />? Menunjukkan peningkatan nafsu makan<br />? Berat badan stabil atau meningkat<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah<br />? Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin<br />? Auskultasi bunyi usus<br />? Berikan makan porsi kecil dan sering<br />? Evaluasi status nutrisi<br /><span style="font-weight: bold;">9. Diagnosa Perawatan : resti kekurangan volume cairan </span><br />Faktor resiko :<br />? Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan banyak, hiperventilasi, muntah)<br />Kriteria Hasil :<br />? Balance cairan seimbang<br />? Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat<br />Intervensi :<br />? Mandiri<br />? Kaji perubahan TTV<br />? Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa<br />? Catat laporan mual / muntah<br />? Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine<br />? Hitung keseimbangan cairan<br />? Asupan cairan minimal 2500 / hari<br />? Kolaborasi<br />? Berikan obat sesuai indikasi ; antipirotik, antiametik<br />? Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">10. Diagnosa Perawatan : kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan</span><br />Dapat dihubungkan dengan :<br />? Kurang terpajan informasi<br />? Kurang mengingat<br />? Kesalahan interpretasi<br />Kemungkinan dibuktikan oleh :<br />? Permintaan informasi<br />? Pernyataan kesalahan konsep<br />? Kesalahan mengulang<br />Kriteria Hasil :<br />? Menyatakan permahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan<br />? Melakukan perubahan pola hidup<br />Intervensi<br />? Mandiri<br />? Kaji fungsi normal paru<br />? Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan<br />? Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal<br />? Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif<br />? Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan.</p>
</div>
<p><span style="font-weight: bold;">DAFTAR PUSTAKA</span>
<div style="text-align: justify;">Pasiyan Rahmatullah (1999), Geriatri : Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Editor : R. Boedhi Darmoso dan Hadi Martono, Jakarta, Balai Penerbit FKUI<br />Doenges, Marilynn (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.<br />Smeltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume I, Jakarta : EGC<br />Suyono, (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.<br />Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica.<br />Lackman’s (1996). Care Principle and Practise Of Medical Surgical Nursing, Philadelpia : WB Saunders Company.</p>
</div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-8290768255779480906?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/20-diagnosa"  title="20 diagnosa">20 diagnosa</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/pengetahuan-perawat-dan-dekubitus"  title="pengetahuan perawat dan dekubitus">pengetahuan perawat dan dekubitus</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/infeksi-sc"  title="infeksi sc">infeksi sc</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/woc-pneumonia"  title="woc pneumonia">woc pneumonia</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/diagnosa-keperawatan-komunitas"  title="diagnosa keperawatan komunitas">diagnosa keperawatan komunitas</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTTHVqiKkBI/AAAAAAAAAUk/Pu1RhGtCgGU/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-dengan-pneumonia-peradangan-paru.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA (PERADANGAN PARU)</a></h4><p>1. DEFINISIPneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yangumumnya disebabkan oleh agent infeksi2. ETIOLOGIPneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvtAynHfdI/AAAAAAAAALU/aDsIE8vzBMc/s320/Asma%2BBronkial.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" title="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL</a></h4><p>1.PENGARTIANAsma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.( Huddak ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-empiema.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TRRROHvm58I/AAAAAAAAAP8/cxngwBe0src/s320/Empiema.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA" title="ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-empiema.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN EMPIEMA</a></h4><p>A. DEFINISI Emphiema thoraksis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada kavitas pleural (Brunner and Suddart, 2000). Emphiema thorak juga ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvyU4P024I/AAAAAAAAALs/TB7cahW2ys0/s320/BRONKIEKTASIS%2B2.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS</a></h4><p>KONSEP DASARA. Pengertian.? Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus ( ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTWS9uB9_iI/AAAAAAAAAUs/5B4RV14mDc4/s320/PPOM.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" title="ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ppom-penyakit-paru-obstruksi-menahun.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PPOM (PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN)</a></h4><p>PPOM (Penyakit Paru Obtruksi Menahun) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner &amp; Suddarth, 2002)PPOM merupakan kondisi ireversibel ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KANKER PARU (CA PARU)</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-kanker-paru-ca-paru.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-kanker-paru-ca-paru.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 00:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep tumor abdomen]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan tumor abdomen]]></category>
		<category><![CDATA[Atmosfer]]></category>
		<category><![CDATA[Batang]]></category>
		<category><![CDATA[contoh kasus medikal bedah]]></category>
		<category><![CDATA[contoh kti keperawatan kmb]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan pertukaran oksigen]]></category>
		<category><![CDATA[Hewan]]></category>
		<category><![CDATA[KANKER]]></category>
		<category><![CDATA[Karsinogen]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan pengertian tumor abdomen pdf 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Klien]]></category>
		<category><![CDATA[Kobalt]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Kulit]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan eliminasi terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[lp tumor paru]]></category>
		<category><![CDATA[lp vulnus]]></category>
		<category><![CDATA[Merokok]]></category>
		<category><![CDATA[Nikel]]></category>
		<category><![CDATA[PARU]]></category>
		<category><![CDATA[Patologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perokok]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi Udara]]></category>
		<category><![CDATA[Radioaktif]]></category>
		<category><![CDATA[Rokok]]></category>
		<category><![CDATA[Schneeberg]]></category>
		<category><![CDATA[Sel Sel]]></category>
		<category><![CDATA[Sepuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[Tumor Suppressor Gene]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-kanker-paru-ca-paru.html</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGERTIAN. Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000). B. ETIOLOGI.Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru :1. Merokok.Tak diragukan lagi merupakan faktor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ03Tsag5EI/AAAAAAAAAME/l0veqC4MN5w/s1600/CA%2BPARU.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 214px; height: 173px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ03Tsag5EI/AAAAAAAAAME/l0veqC4MN5w/s320/CA%2BPARU.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552154727097099330" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">A. PENGERTIAN.</span>
<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-klien-kanker-paru-ca.html" target="_blank" ><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Tumor paru</span></a> merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).<br />Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang  mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. ETIOLOGI.</span><br />Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru :<br /><span style="font-weight: bold;">1. Merokok.</span><br />Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.<br /><span style="font-weight: bold;">2. Iradiasi.</span><br />Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.<br /><span style="font-weight: bold;">3. Kanker paru akibat kerja.</span><br />Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.<br /><span style="font-weight: bold;">4. Polusi udara.</span><br />Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.<br />( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).<br /><span style="font-weight: bold;">5. Genetik.</span><br />Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni :<br />a. Proton oncogen.<br />b. Tumor suppressor gene.<br />c. Gene encoding enzyme.<br /><span style="font-weight: bold;">Teori Onkogenesis.</span><br />Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmed cell death). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.<br /><span style="font-weight: bold;">6. Diet.</span><br />Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.<br />(Ilmu Penyakit Dalam, 2001).</p>
<p><span style="font-weight: bold;">C. KLASIFIKASI.</span><br />Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) :<br /><span style="font-weight: bold;">1. Karsinoma Bronkogenik.</span> <span style="font-weight: bold;">a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).</span><br />Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus, dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan mediastinum.<br /><span style="font-weight: bold;">b. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).</span><br />Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky, komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – organ distal.<br /><span style="font-weight: bold;">c. Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).</span><br />Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.<br /><span style="font-weight: bold;">d. Karsinoma sel besar.</span><br />Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru &#8211; paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh.<br /><span style="font-weight: bold;">e. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.</span> <span style="font-weight: bold;">f. Lain – lain.</span><br />1). Tumor karsinoid (adenoma bronkus).<br />2). Tumor kelenjar bronchial.<br />3). Tumor papilaris dari epitel permukaan.<br />4). Tumor campuran dan Karsinosarkoma<br />5). Sarkoma<br />6). Tak terklasifikasi.<br />7). Mesotelioma.<br />8). Melanoma.<br />(Price, Patofisiologi, 1995).<br /><span style="font-weight: bold;">D. MANIFESTASI KLINIS.</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. Gejala awal.</span><br />Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.<br /><span style="font-weight: bold;">2. Gejala umum.</span><br />a. Batuk<br />Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.<br />b. Hemoptisis<br />Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi.<br />c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">E. STADIUM.</span><br />Tabel  Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer.</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:worddocument>   <w:view>Normal</w:View>   <w:zoom>0</w:Zoom>   <w:trackmoves/>   <w:trackformatting/>   <w:punctuationkerning/>   <w:validateagainstschemas/>   <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:donotpromoteqf/>   <w:lidthemeother>IN</w:LidThemeOther>   <w:lidthemeasian>X-NONE</w:LidThemeAsian>   <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript>   <w:compatibility>    <w:breakwrappedtables/>    <w:snaptogridincell/>    <w:wraptextwithpunct/>    <w:useasianbreakrules/>    <w:dontgrowautofit/>    <w:splitpgbreakandparamark/>    <w:dontvertaligncellwithsp/>    <w:dontbreakconstrainedforcedtables/>    <w:dontvertalignintxbx/>    <w:word11kerningpairs/>    <w:cachedcolbalance/>   </w:Compatibility>   <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>   <m:mathpr>    <m:mathfont val="Cambria Math">    <m:brkbin val="before">    <m:brkbinsub val="--">    <m:smallfrac val="off">    <m:dispdef/>    <m:lmargin val="0">    <m:rmargin val="0">    <m:defjc val="centerGroup">    <m:wrapindent val="1440">    <m:intlim val="subSup">    <m:narylim val="undOvr">   </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267">   <w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8">   <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9">   <w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption">   <w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title">   <w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font">   <w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle">   <w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong">   <w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid">   <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text">   <w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision">   <w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph">   <w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote">   <w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5">   <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6">   <w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis">   <w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference">   <w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference">   <w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title">   <w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography">   <w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]><br />
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} </style>
<p> <![endif]--><br />
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 18pt; border-collapse: collapse; border: medium none;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tbody>
<tr style="">
<td style="width: 230.4pt; border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt;" valign="top" width="307">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Gambarn TNM</span></p>
</td>
<td style="width: 190.1pt; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none;" valign="top" width="253">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Defenisi</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="">
<td style="width: 230.4pt; border-width: medium 1pt 1pt; border-style: none solid solid;" valign="top" width="307">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor primer (T)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">T0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tx</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">TIS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">T1</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">T2</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">T3</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">T4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Kelenjar limfe regional (N)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">N0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">N1</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">N2</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">N3</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Metastasis jauh (M)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">M0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">M1</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Kelompok stadium</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Karsinoma tersembunyi<span style="">          </span>TxN0M0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Stadium 0<span style="">                                </span>TISN0M0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Stadium I<span style="">                        </span><span style="">         </span>T1N0M0<span style="">/ </span>T2N0M0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Stadium II<span style="">                                </span>T1N1M0 / </span><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><span style=""> </span>T2N1M0<span style=""><br /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><span style="">                                             <br /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><span style=""><br /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><span style="">                                                      </span><span style=""> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> <span style=""></span>Stadium IIIa<span style="">                             </span>T3N0M0<span style="">/  </span>T3N0M0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Stadium IIIb<span style="">           </span>Setiap T N3M0<span style="">/ </span>T4 setiap NM0</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Stadium IV<span style="">                               </span>Setiap T,   setiap N,M1</span></p>
</td>
<td style="width: 190.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;" valign="top" width="253">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tidak terbukti adanya tumor primer</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Kanker yang tersembunyi   terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram   atau bronkoskopi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Karsinoma in situ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor dengan diameter ? 3   cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor dengan diameter 3 cm   atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau   mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus; harus berjarak 2 cm distal   dari karina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor dalam setiap ukuran   dengan perluasan langsung pada dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis,   atau pericardium tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea,   esofagus, atau korpus vertebra; atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi   tidak melibat karina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor dalam setiap ukuran   yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung, pembuluh darah besar,   trakea, esofagus, koepua vertebra, atau karina; atau adanya efusi pleura yang   maligna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tidak dapat terlihat   metastasis pada kelenjar limfe regional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Metastasis pada   peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Metastasis pada   mediastinal ipsi lateral atau kelenjar limfe subkarina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Metastasis pada   mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral; kelenjar –   kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tidak diketahui adanya   metastasis jauh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Metastasis jauh terdapat   pada tempat tertentu (seperti otak).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Sputum mengandung sel –   sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Karsinoma in situ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor termasuk klasifikasi   T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau   tempat yang jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor termasuk klasifikasi   T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial   atau hilus ipsilateral.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Tumor termasuk klasifikasi   T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau   hilus ipsilateral; tidak ada metastasis jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Setiap tumor dengan   metastasis pada kelenjar limfe hilus tau mediastinal kontralateral, atau pada   kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular; atau setiap tumor yang termasuk   klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional; tidak   ada metastasis jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;">Setiap tumor dengan   metastsis jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -12.6pt;"><span lang="EN-US"  style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>   <span style="font-weight: bold;">F. PATOFISIOLOGI.</span><br />Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.<br />Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat  berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi.<br />Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. Radiologi.</span><br /><span style="font-weight: bold;">a. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.</span><br />Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.<br />b. Bronkhografi.<br />Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. Laboratorium.</span><br />a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).<br />Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.<br />b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA<br />Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.<br />c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.<br />Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).<br /><span style="font-weight: bold;">3. Histopatologi.</span><br />a. Bronkoskopi.<br />Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).<br />b. Biopsi Trans Torakal (TTB).<br />Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < style="font-weight: bold;">4. Pencitraan.<br />a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.<br />b. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">H. PENATALAKSANAAN.</span><br />Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :</p>
<p>a. Kuratif<br />Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.<br />b. Paliatif.<br />Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.<br />c. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal.<br />Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.<br />d. Supotif.<br />Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi.<br />(Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">1. Pembedahan.</span><br />Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak terkena kanker.<br />1. Toraktomi eksplorasi.<br />Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.<br />2. Pneumonektomi pengangkatan paru).<br />Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.<br />3. Lobektomi (pengangkatan lobus paru).<br />Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.<br />4. Resesi segmental.<br />Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.<br />5. Resesi baji.<br />Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es).<br />6. Dekortikasi.<br />Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. Radiasi</span><br />Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.<br /><span style="font-weight: bold;">3. Kemoterafi.</span><br />Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.<br /><span style="font-weight: bold;">I. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER PARU.</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. PENGKAJIAN.</span><br /><span style="font-weight: bold;">a. Preoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan,1999).</span><br /><span style="font-weight: bold;">1). Aktivitas/ istirahat.</span><br />Gejala    : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,<br />    dispnea karena aktivitas.<br />Tanda    : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).<br /><span style="font-weight: bold;">2). Sirkulasi.</span><br />Gejala    : JVD (obstruksi vana kava).<br />    Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).<br />    Takikardi/ disritmia.<br />    Jari tabuh.<br /><span style="font-weight: bold;">3). Integritas ego.</span><br />Gejala    : Perasaan taku. Takut hasil pembedahan<br />    Menolak kondisi yang berat/ potensi keganasan.<br />Tanda    : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.<br /><span style="font-weight: bold;">4). Eliminasi.</span><br />Gejala    : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).<br />Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan   hormonal, tumor epidermoid)<br /><span style="font-weight: bold;">5). Makanan/ cairan.</span><br />Gejala    : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan<br />makanan, Kesulitan menelan, Haus/ peningkatan masukan cairan.<br />Tanda    : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)<br />Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)<br />Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).<br /><span style="font-weight: bold;">6). Nyeri/ kenyamanan.</span><br />Gejala    : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu<br />pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.<br />Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)<br />Nyeri abdomen hilang timbul.<br /><span style="font-weight: bold;">7). Pernafasan.</span><br />Gejala    : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau<br />produksi sputum.<br />Nafas pendek<br />Pekerja yang terpajan polutan, debu industri<br />Serak, paralysis pita suara.<br />Riwayat merokok<br />Tanda    : Dispnea, meningkat dengan kerja<br />Peningkatan frem<span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"><span class=" on down" style="display: block;" id="formatbar_Bold" title="Tebal" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 3);ButtonMouseDown(this);"><img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Tebal" class="gl_bold" border="0" /></span></span>itus taktil (menunjukkan konsolidasi)<br />Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi).<br />Hemoptisis.<br /><span style="font-weight: bold;">8). Keamanan.</span><br />Tanda    : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)<br />Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)<br /><span style="font-weight: bold;">9). Seksualitas.</span><br />Tanda    : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel<br />besar)<br />Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)<br /><span style="font-weight: bold;">10). Penyuluhan.</span><br />Gejala    : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis<br />Kegagalan untuk membaik.<br /><span style="font-weight: bold;">b. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).</span><br />- Karakteristik dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien.<br />- Frekuensi dan irama jantung.<br />- Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).<br />- Pemantauan tekanan vena sentral.<br />- Status nutrisi.<br />- Status mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.<br />- Kondisi dan karakteristik water seal drainase.<br /><span style="font-weight: bold;">1). Aktivitas atau istirahat.</span><br />Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.<br /><span style="font-weight: bold;">2). Sirkulasi.</span><br />Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.<br /><span style="font-weight: bold;">3). Eliminasi.</span><br />Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BAB<br />Tanda    : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik urine<br />Bisng usus, samara atau jelas.<br /><span style="font-weight: bold;">4). Makanan dan cairan.</span><br />Gejala : Mual atau muntah<br /><span style="font-weight: bold;">5). Neurosensori.</span><br />Gejala    : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi.<br /><span style="font-weight: bold;">6). Nyeri dan ketidaknyamanan.</span><br />Gejala    : Keluhan nyeri, karakteristik nyeri<br />Nyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisi<br />Atau efek – efek anastesi.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA KEPERAWATAN.</span><br /><span style="font-weight: bold;">a. Preoperasi (Gale, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, 2000, dan Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">1). Kerusakan pertukaran gas</span><br />Dapat dihubungkan :<br />Hipoventilasi.<br />Kriteria hasil :<br />- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.<br />- Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.<br />Intervensi :<br />a) Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.<br />Rasional    : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi adanya tahanan jalan nafas.<br />b) Catat ada  atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.<br />Rasional    : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler. Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan jalan nafas sehubungan dengan mukus/ edema serta tumor.<br />c) Kaji adanmya sianosis<br />Rasional    : Penurunan oksigenasi bermakna terjadi sebelum sianosis. Sianosis sentral dari “organ” hangat contoh, lidah, bibir dan daun telinga adalah paling indikatif.<br />d) Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi<br />Rasional    : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.<br />e) Awasi atau gambarkan seri GDA.<br />Rasional    : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan terapi atau indikator kebutuhan perubahan terapi.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">2). Bersihan jalan nafas tidak efektif.</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Kehilangan fungsi silia jalan nafas<br />- Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.<br />- Meningkatnya tahanan jalan nafas<br />Kriteria hasil :<br />- Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.<br />- Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih<br />- Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.<br />- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersiahn jalan nafas.<br />Intervensi :<br />a) Catat perubahan upaya dan pola bernafas.<br />Rasional    : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.<br />b) Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.<br />Rasional    : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus.<br />c) Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.<br />Rasional    : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau puulen.<br />d) Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.<br />Rasional    : Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.<br />e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol dll. Awasi untuk efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.<br />Rasional    : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret. Memerlukan perubahan dosis/ pilihan obat.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3). Ketakutan/Anxietas.</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Krisis situasi<br />- Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.<br />- Faktor psikologis.<br />Kriteria hasil :<br />- Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.<br />- Mengakui dan mendiskusikan takut.<br />-  Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.<br />-  Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.<br />Intervensi :<br />a) Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.<br />Rasional    : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.<br />b) Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.<br />Rasional    : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.<br />c) Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.<br />Rasional    : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.<br />d) Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.<br />Rasional    : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.<br />e) Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.<br />Rasional    : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.<br /><span style="font-weight: bold;">4). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Kurang informasi.<br />- Kesalahan interpretasi informasi.<br />- Kurang mengingat.<br />Kriteria hasil :<br />- Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.<br />- Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.<br />- Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.<br />- Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.<br />Intervensi :<br />a) Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.<br />Rasional    : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.<br />b) Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat<br />Rasional    : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.<br />c) Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.<br />Rasional    : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.<br />d) Berikan pedoman untuk aktivitas.<br />Rasional    : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan.<br /><span style="font-weight: bold;">b. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).</span><br /><span style="font-weight: bold;">1). Kerusakan pertukaran gas.</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Pengangkatan jaringan paru<br />- Gangguan suplai oksigen<br />- Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan darah).<br />Kriteria hasil :<br />- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.<br />- Bebas gejala distress pernafasan.</p>
<p>Intervensi :<br />a) Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu, nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.<br />Rasional    : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap hilangnya jaringan paru.<br />b) Auskultasi paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.<br />Rasional    : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang masih ada.<br />c) Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan penggunaan alat<br />Rasional    : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.<br />d) Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi miring.<br />Rasional    : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.<br />e) Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.<br />Rasional    : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.<br /><span style="font-weight: bold;">2). Bersihan jalan nafas tidak efektif</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Peningkatan jumlah/ viskositas sekret<br />- Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.<br />- Kelemahan/ kelelahan.</p>
<p>Kriteria hasil :<br />Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak bising.</p>
<p>Intervensi :<br />a)  Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.<br />Rasional    : Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi jalan nafas.<br />b)  Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi dan menekan daerah insisi.<br />Rasional    : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.<br />c)  Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.<br />Rasional    : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.<br />d)  Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.<br />Rasional    : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.<br />e)  Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.<br />Rasional    : Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret.<br /><span style="font-weight: bold;">3). Nyeri (akut)</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal.<br />- Adanya selang dada.<br />- Invasi kanker ke pleura, dinding dada<br />Kriteria hasil :<br />- Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.<br />- Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.<br />- Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.<br />Intervensi :<br />a) Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala 0 – 10.<br />Rasional    : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan  skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic, meningkatkan control nyeri.<br />b) Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.<br />Rasional    : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.<br />c) Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.<br />Rasional    : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.<br />d) Dorong menyatakan perasaan tentangnyeri.<br />Rasional    : Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.<br />e) Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi<br />Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">4). Anxietas</span><br />Dapat dihubungkan:<br />- Krisis situasi<br />- Ancaman/ perubahan status kesehatan<br />- Adanya ancman kematian.<br />Kriteria hasil :<br />- Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah<br />- Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat<br />- Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.<br />Intervensi :<br />a) Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.<br />Rasional    : Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.<br />b) Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan<br />Rasional    : Dukungan memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.<br />c) Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.<br />Rasional    : Bila penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.<br />d) Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.<br />Rasional    : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap informasi..<br />e) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa/ pengobatan.<br />Rasional    : Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.<br />f) Berikan kenyamanan fiik pasien.<br />Rasional    : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik menetap.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">5). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.</span><br />Dapat dihubungkan :<br />- Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber<br />- Salah interperatasi informasi.<br />- Kurang mengingat<br />Kriteria hasil :<br />- Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.<br />- Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an tindakan tersebut.<br />- Berpartisipasi dalam proses belajar.<br />- Melakukan perubahan pola hidup.<br />Intervensi :<br />a) Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.<br />Rasional    : Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi.<br />b) Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram yang tepat. Masukkan informasi ini dalam diskusi tentang harapan jangka pendek/ panjang dari penyembuhan.<br />Rasional    : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi, dan lamanya/ derajat komplikasi.<br />c) Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.<br />Rasional    : Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan penyembuhan optimal. Juga memberikan kesempatan untuk merujuk masalah/ pertanyaan pada waktu yang sedikit stres.</p>
<p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">DAFTAR PUSTAKA</span></div>
<p>Doenges, Marilynn E, (1999), <span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Rencana Asuhan Keperawatan</span>: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta<br />Long, Barbara C, (1996), Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Holistik, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.<br />Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.</p>
</div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-2995543978357452580?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/contoh-kasus-medikal-bedah"  title="contoh kasus medikal bedah">contoh kasus medikal bedah</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/gangguan-pertukaran-oksigen"  title="gangguan pertukaran oksigen">gangguan pertukaran oksigen</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/keperawatan-pengertian-tumor-abdomen-pdf-2012"  title="keperawatan pengertian tumor abdomen pdf 2012">keperawatan pengertian tumor abdomen pdf 2012</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/lp-vulnus"  title="lp vulnus">lp vulnus</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/laporan-pendahuluan-eliminasi-terbaru"  title="laporan pendahuluan eliminasi terbaru">laporan pendahuluan eliminasi terbaru</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KANKER PARU (CA PARU)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-ca-paru.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_q34b9TV8AmQ/SUXjymRZ3_I/AAAAAAAAAlE/6Vt2DVAp3tk/s200/paru2.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PADA CA PARU" title="ASUHAN KEPERAWATAN PADA CA PARU" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-ca-paru.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PADA CA PARU</a></h4><p>PengertianTumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).EtiologiMeskipun ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-tumor-laring.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TT9VY5nmN5I/AAAAAAAAAaM/AI87AeLixfA/s320/tumor%2Bjinak%2Blaring.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR LARING" title="ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR LARING" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-tumor-laring.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR LARING</a></h4><p>A. TUMOR JINAK LARINGTumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang lebih 5 % dari semua jenis tumor laring.Tumor jinak laring dapat berupa :1. Papiloma ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvtAynHfdI/AAAAAAAAALU/aDsIE8vzBMc/s320/Asma%2BBronkial.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" title="ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-asma-bronkial.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL</a></h4><p>1.PENGARTIANAsma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.( Huddak ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQvyU4P024I/AAAAAAAAALs/TB7cahW2ys0/s320/BRONKIEKTASIS%2B2.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkiektasis.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKIEKTASIS</a></h4><p>KONSEP DASARA. Pengertian.? Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus ( ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQv188MHyvI/AAAAAAAAAL0/L8Sm1R9fBDQ/s320/Pneumonia.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" title="ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-bronkopneumonia-pneumonia.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA (PNEUMONIA)</a></h4><p>Konsep Dasar1. DefinisiPneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-klien-kanker-paru-ca-paru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN NYERI DADA (CHEST PAIN)</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest-pain.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest-pain.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 01:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Anoreksia]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[CHEST]]></category>
		<category><![CDATA[DADA]]></category>
		<category><![CDATA[Depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Dinding]]></category>
		<category><![CDATA[Disritmia]]></category>
		<category><![CDATA[Fungsi Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Leher]]></category>
		<category><![CDATA[Metabolisme]]></category>
		<category><![CDATA[Nafas]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeri]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeri Dada]]></category>
		<category><![CDATA[Otot]]></category>
		<category><![CDATA[PAIN]]></category>
		<category><![CDATA[Perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernafasan]]></category>
		<category><![CDATA[PLEURA]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Sgpt]]></category>
		<category><![CDATA[Tegang]]></category>
		<category><![CDATA[Ureum]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest-pain.html</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGERTIAN • Nyeri dada adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada (referred pain)• Nyeri Coroner adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi untuk kebutuhan metabolisme miokard.• Nyeri dada akibat penyakit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ06XeizXqI/AAAAAAAAAMM/GCWnc2AKB4w/s1600/Nyeri%2Bdada.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 211px; height: 176px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ06XeizXqI/AAAAAAAAAMM/GCWnc2AKB4w/s320/Nyeri%2Bdada.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552158090628128418" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">A. PENGERTIAN</span>
<div style="text-align: justify;">• <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest.html" target="_blank" ><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Nyeri dada</span></a> adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada (referred pain)<br />• <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest.html" target="_blank" ><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Nyeri Coroner</span></a> adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi untuk kebutuhan metabolisme miokard.<br />• <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest.html" target="_blank" ><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Nyeri dada</span></a> akibat penyakit paru misalnya radang pleura (pleuritis) karena lapisan paru saja yang bisa merupakan sumber rasa sakit, sedang pleura viseralis dan parenkim paru tidak menimbulkan rasa sakit (Himawan, 1996)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. ETIOLOGI</span><br />Nyeri Dada:<br />a. Cardial<br />- Koroner<br />- Non Koroner<br />b. Non Cardial<br />- Pleural<br />- Gastrointestinal<br />- Neural<br />- Psikogenik (Abdurrahman N, 1999)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">C. TANDA DAN GEJALA</span><br />Tanda dan gejala yang biasa menyertai nyeri dada adalah :<br />- Nyeri ulu hati<br />- Sakit kepala<br />- Nyeri yang diproyeksikan ke lengan, leher, punggung<br />- Diaforesis / keringat dingin<br />- Sesak nafas<br />- Takikardi<br />- Kulit pucat<br />- Sulit tidur (insomnia)<br />- Mual, Muntah, Anoreksia<br />- Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri<br />- Kelemahan<br />- Wajah tegang, m erintih, menangis<br />- Perubahan kesadaran<br /><span style="font-weight: bold;">D. PEMERIKSAAN PENUNJANG</span><br />a. EKG 12 lead selama episode nyeri<br />- Takhikardi / disritmia<br />- Rekam EKG lengkap : T inverted, ST elevasi / depresi, Q Patologis<br />b. Laboratorium<br />- Kadar enzim jantung : CK, CKMB, LDH<br />- Fungsi hati : SGOT, SGPT<br />- Fungsi Ginjal : Ureum, Creatinin<br />- Profil Lipid : LDL, HDL<br />c. Foto Thorax<br />d. Echocardiografi<br />e. Kateterisasi jantung<br /><span style="font-weight: bold;">F. PENGKAJIAN</span><br /><span style="font-weight: bold;">1. Pengkajian Primer</span><br />a. Airway<br />- Bagaimana kepatenan jalan nafas<br />- Apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas?<br />- Bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan?<br />b. Breathing<br />- Bagaimana pola nafasnya ? Frekuensinya? Kedalaman dan iramanya?<br />- Aapakah menggunakan otot bantu pernafasan?<br />- Apakah ada bunyi nafas tambahan?<br />c. Circulation<br />- Bagaimana dengan nadi perifer dan nadi karotis? Kualitas (isi dan tegangan)<br />- Bagaimana Capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguri?<br />- Apakah ada penurunan kesadaran?<br />- Bagaimana tanda-tanda vitalnya ? T, S, N, RR, HR?<br /><span style="font-weight: bold;">2. Pengkajian Sekunder</span><br />Hal-hal penting yang perlu dikaji lebih jauh pada nyeri dada (koroner) :<br />a. Lokasi nyeri<br />Dimana tempat mulainya, penjalarannya (nyeri dada koroner : mulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna)<br />b. Sifat nyeri<br />Perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik/rasa terbakar, dll.<br />c. Ciri rasa nyeri<br />Derajat nyeri, lamanya, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu.<br />d. Kronologis nyeri<br />Awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan<br />e. Keadaan pada waktu serangan<br />Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu<br />f. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap/posisi tubuh, pergerakan, tekanan, dll.<br />g. Gejala lain yang mungkin ada atau tidaknya hubungan dengan nyeri dada.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">G. DIAGNOSA KEPERAWATAN</span><br />1. Perubahan kenyamanan nyeri (nyeri akut) b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri, inflamasi jaringan<br />2. Perubahan perfusi jaringan (otot jantung) b.d penurunan aliran darah<br />3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan metabolisme jaringan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">H. INTERVENSI KEPERAWATAN</span><br />Prinsip-prinsip Tindakan :<br />1. Tirah baring (bedrest) dengan posisi fowler / semi fowler<br />2. Melakukan EKG 12 lead kalau perlu 24 lead<br />3. Mengobservasi tanda-tanda vital<br />4. Kolaborasi pemberian O2 dan pemberian obat-obat analgesik, penenang, nitrogliserin, Calcium antagonis dan observasi efek samping obat.<br />5. Memasang infus dan memberi ketenangan pada klien<br />6. Mengambil sampel darah<br />7. Mengurangi rangsang lingkungan<br />8. Bersikap tenang dalam bekerja<br />9. Mengobservasi tanda-tanda komplikasi</p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">DAFTAR PUSTAKA</span></div>
<p>1. Abdurrahman, N, Anamnesa dan pemeriksaan Jasmani Sistem Kardiovaskuler dalam IPD Jilid I, Jakarta: FKUI, 1999.<br />2. Doenges, Marilynn E,<span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Rencana Asuhan Keperawatan</span>, Jakarta : EGC, 2000.<br />3. Himawan, Buku Kuliah Gangguan Sistem Kardiovaskuler,1994.<br />4. Hudak&amp;Gallo, Keperawatan Kritis cetakan I, Jakarta : EGC, 1995</p>
</div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-5223421268842967643?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-klien-depresi"  title="askep klien depresi">askep klien depresi</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN NYERI DADA (CHEST PAIN)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-ami-acute-myocardial-infarction.html"  rel="bookmark"><img src="http://www.health-writings.com/img/my/acute-myocardial-infarction-symptoms/acute_myocardial1.png" alt="Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)" title="Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-ami-acute-myocardial-infarction.html"  rel="bookmark">Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)</a></h4><p>AMI (Acute Myocardial Infarction) A. PENGERTIANInfark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.(Brunner &amp; ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-angina-pectoris.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_T0An3sWmk_8/S7x8BZi3DFI/AAAAAAAAAB0/XAe3TRZwfE0/s1600/angina.jpg" alt="Askep Angina Pectoris" title="Askep Angina Pectoris" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-angina-pectoris.html"  rel="bookmark">Askep Angina Pectoris</a></h4><p>Angina PectorisANGINA PECTORISPENGERTIANAngina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)Angina pektoris adalah suatu sindroma ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-penyakit-jantung-rematik.html"  rel="bookmark"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1897108655767517628-7331705003570406253?l=askep-asuhankeperawatan.blogspot.com" alt="Askep Penyakit Jantung Rematik" title="Askep Penyakit Jantung Rematik" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-penyakit-jantung-rematik.html"  rel="bookmark">Askep Penyakit Jantung Rematik</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Penyakit Jatung RematikAskep PJRA. Pengkajian Tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data tentang :Fungsi jantungToleransi terhadap aktivitas dan sikap klien terhadap pembatasan aktivitasStatus nutrisiTingkat ketidaknyamananGangguan ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1MAPneBCI/AAAAAAAAAMs/K6J3McbXGkI/s320/Payah%2BJantung.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" title="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)</a></h4><p>DEFINISISuatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuFn573R2I/AAAAAAAAAXM/Z6ZzDk_o3rA/s320/PJK.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" title="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)</a></h4><p>DEFINISICAD adalah penyakit pada arteri koroner dimana terjadi penyempitan atau sumbatan pada liang arteri koroner oleh karena proses atherosklerosis. Pada proses artherosklerosis terjadi perlemakan pada ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-nyeri-dada-chest-pain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL KRONIS (CKD)</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-kronis-ckd.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-kronis-ckd.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 03:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Analgesik]]></category>
		<category><![CDATA[Arteria Renalis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alopecia]]></category>
		<category><![CDATA[askep cedera pada kandung kemih]]></category>
		<category><![CDATA[askep ckd]]></category>
		<category><![CDATA[askep ckd nanda]]></category>
		<category><![CDATA[askep lengkap cad]]></category>
		<category><![CDATA[askep nanda ppom]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada penyakit striktur eretra]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien hemodialisa dengan hemodialisa rutin]]></category>
		<category><![CDATA[askep striktur uretra]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan ckd]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan ckd]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan glomerulonefritis]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan glomerulonefritis progresif]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan lupus]]></category>
		<category><![CDATA[Cairan]]></category>
		<category><![CDATA[Clearance Creatinin]]></category>
		<category><![CDATA[Cronic]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes pada ibu post sc]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal]]></category>
		<category><![CDATA[Ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[Glomerulonefritis]]></category>
		<category><![CDATA[Gout]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Penyambung]]></category>
		<category><![CDATA[kasus ckd]]></category>
		<category><![CDATA[kasus hipokalsemia]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kriteria keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kronis]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan askep hipokalsemia]]></category>
		<category><![CDATA[Lupus Eritematosus]]></category>
		<category><![CDATA[makalah askep klien dengan cidera kepala sedang]]></category>
		<category><![CDATA[MALIGNA]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi ckd karena hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan curah jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[Pielonefritis]]></category>
		<category><![CDATA[Poliarteritis Nodosa]]></category>
		<category><![CDATA[prosedur kompreskering]]></category>
		<category><![CDATA[proses dialisis pada hemodialisis]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[Terminal Stage]]></category>
		<category><![CDATA[Toksik]]></category>
		<category><![CDATA[Uremia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-kronis-ckd.html</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGERTIAN Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ0-gw_n7sI/AAAAAAAAAMk/vyuk4QNuoFg/s1600/GAGAL%2BGINJAL.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 251px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ0-gw_n7sI/AAAAAAAAAMk/vyuk4QNuoFg/s320/GAGAL%2BGINJAL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552162648246185666" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">A. PENGERTIAN</span></div>
<p><span style="font-weight: bold;">Gagal ginjal kronik (GGK)</span> biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)<br /><span style="font-weight: bold;">Gagal ginjal kronis</span> atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan <span style="font-weight: bold;">sampah nitrogen lain dalam darah).  (Brunner &amp; Suddarth, 2001; 1448)</span> <span style="font-weight: bold;">Gagal ginjal kronik </span>merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)<br />Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ),pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. ETIOLOGI</span><br />• Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis<br />• Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis<br />• Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif<br />• Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus ginjal<br />• Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis<br />• Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal<br />• Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.<br />• Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis</p>
<p><span style="font-weight: bold;">C. PATOFISIOLOGI</span><br />Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% &#8211; 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)<br />Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner &amp; Suddarth, 2001 : 1448).</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Klasifikasi</span><br />Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :<br />- Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik.<br />- Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.<br />- Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.<br />K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG :<br />- Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2<br />- Stadium 2   : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1,73 m2<br />- Stadium 3    : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2<br />- Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2<br />- Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus :<br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >KLIK UNTUK MEMPERBESAR</span></p>
<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ08gjwOtiI/AAAAAAAAAMc/j9CIiz4EiC0/s1600/RUMUS%2BGGK.jpg" target="_blank" ><img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 418px; height: 70px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ08gjwOtiI/AAAAAAAAAMc/j9CIiz4EiC0/s320/RUMUS%2BGGK.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552160445668701730" border="0" /></a><br /><span style="font-weight: bold;">MANIFESTASI KLINIS</span><br />1. Manifestasi klinik  antara lain (Long, 1996 : 369):<br />a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi<br />b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.</p>
<p>2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin &#8211;  angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).</p>
<p>3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:<br />a. Gangguan kardiovaskuler<br />Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.<br />b. Gannguan Pulmoner<br />Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.<br />c. Gangguan  gastrointestinal<br />Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.<br />d. Gangguan  muskuloskeletal<br />Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ), burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas.<br />e. Gangguan Integumen<br />kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.<br />f. Gangguan endokrim<br />Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.<br />g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa<br />biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.<br />h. System hematologi<br />anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">D. PEMERIKSAAN PENUNJANG</span><br />Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain :<br />1.Pemeriksaan lab.darah<br />- hematologi<br />Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit<br />- RFT ( renal fungsi test )<br />ureum dan kreatinin<br />- LFT (liver fungsi test )<br />- Elektrolit<br />Klorida, kalium, kalsium<br />- koagulasi studi<br />PTT, PTTK<br />- BGA<br />2.Urine<br />- urine rutin<br />- urin khusus : benda keton, analisa kristal batu<br />3.pemeriksaan kardiovaskuler<br />- ECG<br />- ECO<br />4.Radidiagnostik<br />- USG abdominal<br />- CT scan abdominal<br />- BNO/IVP, FPA<br />- Renogram<br />- RPG ( retio pielografi )<br /><span style="font-weight: bold;">E. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN</span><br />Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :<br />a) Konservatif<br />- Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin<br />- Observasi balance cairan<br />- Observasi adanya odema<br />- Batasi cairan yang masuk<br />b) Dialysis<br />- peritoneal dialysis<br />biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency.<br />Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut  adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis ) <br />- Hemodialisis<br />Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :<br />- AV fistule : menggabungkan vena dan arteri<br />- Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )<br />c) Operasi<br />- Pengambilan batu<br />- transplantasi ginjal</p>
<p><span style="font-weight: bold;">I. DIAGNOSA KEPERAWATAN</span><br />Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah:<br />1. Penurunan curah jantung<br />2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit<br />3. Perubahan nutrisi<br />4. Perubahan pola nafas<br />5. Gangguan perfusi jaringan<br />6. Intoleransi aktivitas<br />7. kurang pengetahuan tentang tindakan medis<br />8. resti terjadinya infeksi</p>
<p><span style="font-weight: bold;">J. INTERVENSI</span> <span style="font-weight: bold;">1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat</span><br />Tujuan:<br />Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :<br />mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler<br />Intervensi:<br />a. Auskultasi bunyi jantung dan paru<br />R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur<br />b. Kaji adanya hipertensi<br />R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)<br />c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)<br />R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri<br />d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas<br />R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia</p>
<p>2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)<br />Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output<br />Intervensi:<br />a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital<br />b. Batasi masukan cairan<br />R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi<br />c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan<br />R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan<br />d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran<br />R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output</p>
<p><span style="font-weight: bold;">3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah</span><br />Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil<br />Intervensi:<br />a. Awasi konsumsi makanan / cairan<br />R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi<br />b. Perhatikan adanya mual dan muntah<br />R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi<br />c. Beikan makanan sedikit tapi sering<br />R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan<br />d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan<br />R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial<br />e. Berikan perawatan mulut sering<br />R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik</span><br />Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil<br />Intervensi:<br />a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles<br />R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret<br />b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam<br />R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2<br />c. Atur posisi senyaman mungkin<br />R: Mencegah terjadinya sesak nafas<br />d. Batasi untuk beraktivitas<br />R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia</p>
<p><span style="font-weight: bold;">5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis</span><br />Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :<br />- Mempertahankan kulit utuh<br />- Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit<br />Intervensi:<br />a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan<br />R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.<br />b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa<br />R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan<br />c. Inspeksi area tergantung terhadap udem<br />R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek<br />d. Ubah posisi sesering mungkin<br />R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia<br />e. Berikan perawatan kulit<br />R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit<br />f. Pertahankan linen kering<br />R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit<br />g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis<br />R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera<br />h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar<br />R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit</p>
<p><span style="font-weight: bold;">6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan</span><br />Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi<br />Intervensi:<br />a. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas<br />b. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan<br />c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat<br />d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat</p>
<p><span style="font-weight: bold;">7. Kurang pengetahuan tentang  kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa) b.d salah interpretasi informasi.</span><br />a. Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.<br />b. Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD  serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).<br />c. Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.<br />d. Anjurkan keluarga untuk memberikan support system.<br />e. Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">DAFTAR PUSTAKA</span><br />Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC</p>
<p>Doenges E,  Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC</p>
<p>Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan</p>
<p>Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC</p>
<p>Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC</p>
<p>Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-3055041917588409253?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/kasus-ckd"  title="kasus CKD">kasus CKD</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-cedera-pada-kandung-kemih"  title="askep cedera pada kandung kemih">askep cedera pada kandung kemih</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/asuhan-keperawatan-pada-wanita-pre-menstruasi-sindrom"  title="asuhan keperawatan pada wanita pre menstruasi sindrom">asuhan keperawatan pada wanita pre menstruasi sindrom</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/normal-elektrolit"  title="normal elektrolit">normal elektrolit</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-lengkap-cad"  title="askep lengkap cad">askep lengkap cad</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL KRONIS (CKD)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis.html"  rel="bookmark"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TRRXPdi7sYI/AAAAAAAAAQM/jn9-x_qydSA/s320/Gagal%2BGinjal.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS" title="ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL GINJAL AKUT DAN KRONIS</a></h4><p>Gagal Ginjal AkutI. DEFINISI? Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya? Suatu bahan yang biasanya ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-ggk.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_q34b9TV8AmQ/SUXQ1lR3-UI/AAAAAAAAAj0/OnsmW0KW0y0/s200/kidney2.gif" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGK" title="ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGK" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-ggk.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGK</a></h4><p>PengertianGagal Ginjal Kronik (CRF) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-gga.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_q34b9TV8AmQ/SUTzYMWGW1I/AAAAAAAAAjc/aDgFyKgu9qQ/s200/ginjal.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGA" title="ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGA" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-pada-gga.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN PADA GGA</a></h4><p>PengertianAdalah penurunan tiba-tiba faal ginjal pada individu dengan ginjal sehat sebelumnya, dengan atau tanpa oliguria dan berakibat azotemia progresif disertai kenaikan ureum dan kreatinin darah ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/crf.html"  rel="bookmark"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28252474-114792561436718701?l=asuhan-keperawatan.blogspot.com" alt="CRF" title="CRF" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/crf.html"  rel="bookmark">CRF</a></h4><p>A. Pengkajian Dasar Data Pengkajian Pasien - Aktifitas Gejala : Kelelahan ekstrem, kalemahan, malaise Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen) Tanda : Kelemahan otot, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-vesikolitiasis-batu-kandung-kemih.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTRSk4HCrXI/AAAAAAAAAT0/n3CLLfFOvAk/s320/Batu%2BGinjal.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITIASIS (BATU KANDUNG KEMIH)" title="ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITIASIS (BATU KANDUNG KEMIH)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-vesikolitiasis-batu-kandung-kemih.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITIASIS (BATU KANDUNG KEMIH)</a></h4><p>A.PengertianBatu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).Vesikolitiasis ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-gagal-ginjal-kronis-ckd.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 04:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Angina Pectoris]]></category>
		<category><![CDATA[askep teoritis gagal nafas]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan asi]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada pasien ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[CORDIS]]></category>
		<category><![CDATA[Cyne]]></category>
		<category><![CDATA[DECOMP]]></category>
		<category><![CDATA[Diafragma]]></category>
		<category><![CDATA[Disritmia]]></category>
		<category><![CDATA[Edema]]></category>
		<category><![CDATA[Filtrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal Jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Gallop]]></category>
		<category><![CDATA[Jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[lp paru emboli]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tujuan cara memindahkan pasien]]></category>
		<category><![CDATA[Manahan]]></category>
		<category><![CDATA[Natrium]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeri Dada]]></category>
		<category><![CDATA[PAYAH]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan curah jantung]]></category>
		<category><![CDATA[Saraf]]></category>
		<category><![CDATA[Syok]]></category>
		<category><![CDATA[Tanda]]></category>
		<category><![CDATA[Vena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya gagal jantung. PENYEBAB KEGAGALAN- Disritmia (bradikardi,tachicardi)- Malfungsi katub (stenosis katub pulmonal/aortik)- Abnormalitas otot jantung (kardiomiopati, aterosklerosis koroner)- Angina pectoris, berlanjut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1MAPneBCI/AAAAAAAAAMs/K6J3McbXGkI/s1600/Payah%2BJantung.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 112px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1MAPneBCI/AAAAAAAAAMs/K6J3McbXGkI/s320/Payah%2BJantung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552177482693477410" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">DEFINISI</span></div>
<p>Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya gagal jantung.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">PENYEBAB KEGAGALAN</span><br />- Disritmia (bradikardi,tachicardi)<br />- Malfungsi katub (stenosis katub pulmonal/aortik)<br />- Abnormalitas otot jantung (kardiomiopati, aterosklerosis koroner)<br />- Angina pectoris, berlanjut infark miocard akut.<br />- Ruptur miokard</p>
<p><span style="font-weight: bold;">RESPON TERHADAP KEGAGALAN</span><br />A. Peningkatan tonus simpatis<br />Peningkatan sistem saraf simpatis yang mempengaruhi arteri vena jantung. Akibatnya meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan kontraksi. Tonus simpatis membantu mempertahankan tekanan darah normal.<br />B. Retensi air dan natrium<br />Bila ginjal mendeteksi adanya penurunan volume darah yang ada untuk filtrasi, ginjal merespon dengan manahan natrium dan air dengan cara demikian mencoba untuk meningkatkan volume darah central dan aliran balik vena.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">PENGKAJIAN GAGAL JANTUNG</span><br />a. Kegagalan ventrikel kiri<br />Tanda dan gejala :<br />- Kongesti vaskuler pulmonal<br />- Dispnoe, nyeri dada dan syok<br />- Ortopnoe, dispnoe nocturnal paroxismal<br />- Batuk iritasi, edema pulmonal akut<br />- Penurunan curah jantung<br />- Gallop atrial –S4, gallop ventrikel-S1<br />- Crackles paru<br />- Disritmia pulsus alterans<br />- Peningkatan BB<br />- Pernafasan cyne stokes<br />- Bukti-bukti radiografi tentang kongesti vaskuler pulmonal<br />b. kegagalan ventrikel kanan<br />Tanda dan gejala :<br />- Cirah jantung rendah<br />- Distensi vena jugularis<br />- Edema<br />- Disritmia<br />- S3 dan S4 ventrikel kanan<br />- Hipersonor pada perkusi<br />- Immobilisasi diafragma rendah<br />- Peningkatan diameter pada antero posterial</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Klasifikasi gagal jantung (menurut Killip)</span><br />I. Tidak gagal<br />II. Gagal ringan sampai menengah<br />III. Edema pulmonal akut<br />IV. Syock kardiogenik</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Sifat nyeri pada pasien dengan decompensasi cordis</span><br />1. Akut<br />Timbul secara mendadak dan segera lenyap bila penyebab hilang. Ditandai oleh : nyeri seperti tertusuk benda tajam, pucat, disritmia, tanda syock kardiogenik (akral dingin gan perfusi turun)<br />2. Kronis<br />Nyeri yang terjadi berkepanjangan hingga berbulan-bulan. Penyebab sulit dijelaskan dan gejala obyektif lidak jelas umumnya disertai dengan gangguan kepribadian serta kemampuan fungsional<br /><span style="font-weight: bold;">Derajat nyeri</span><br />I. Ringan : tidak mengganggu ADL dan pasien dapat tidur<br />II. Sedang : mengganggu ADL dan pasien dapat tidur<br />III. Berat    : mengganggu ADL dan pasien tidak dapat tidur  <span style="font-weight: bold;">PENATALAKSANAAN GAGAL JANTUNG</span><br />Bertujuan :<br />A. menurunkan kerja jantung<br />B. Meningkatkan gurah jantung dan kontraktilitas miocard<br />C. Menurunkan retensi garam dan air</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pelaksanaannya meliputi :</span><br />A. Tirah Baring<br />Kebutuhan pemompaan jantung diturunkan, untuk gagal jantung kongesti tahap akut dan sulit disembuhkan.<br />B. Pemberian diuretik<br />Akan menurunkan preload dan kerja jantung<br />C. Pemberian morphin<br />Untuk mengatasi edema pulmonal akut, vasodilatasi perifer, menurunkan aliran balik vena dan kerja jantung, menghilangkan ansietas karena dispnoe berat.<br />D. Reduksi volume darah sirkulasi<br />Dengan metode plebotomi, yaitu suatu prosedur yang bermanfaat pada pasien dengan edema pulmonal akut karena tindakan ini dengan segera memindahkan volume darah dari sirkulasi sentral, menurunkan aliran balik vena dan tekanan pengisian serta sebaliknya menciptakan masalah hemodinamik segera.<br />E. Terapi nitrit<br />Untuk vasodilatasi perifer guna menurunkan afterload.<br />F. Terapi digitalis<br />Obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas (inotropik), memperlambat frekwensi ventrikel, peningkatam efisiensi jantung.<br />G. Inotropik positif<br />- Dopamin<br />Pada dosis kecil 2,5 s/d 5 mg/kg akan merangsang alpha-adrenergik beta-adrenergik. Dan reseptor dopamine ini mengakibatkankeluarnya katekolamin dari sisi penyimpanan saraf. Memperbaiki kontraktilitas curah jantung isi sekuncup. Dilatasi ginjal-serebral dan pembuluh koroner. Pada dosis maximal 10-20 mg/kg BB akan menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban kerja jantung.<br />- Dobutamin<br />Merangsang hanya betha adrenergik. Dosis mirip dopamine memperbaiki isi sekuncup, curah jantung dengan sedikit vasokonstriksi dan tachicardi.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Tindakan-tindakan mekanis</span><br />- Dukungan mekanis ventrikel kiri (mulai 1967) dengan komterpulasi balon intra aortic / pompa PBIA. Berfungsi untuk meningkatkan aliran koroner, memperbaiki isi sekuncup dan mengurangi preload dan afterload ventrikel kiri.<br />- Tahun 1970, dengan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO). Alat ini menggantikan fungsi jantung paru. Mengakibatkan aliran darah dan pertukaran gas. Oksigenasi membrane extrakorporeal dapat digunakan untuk memberi waktu sampai tindakan pasti seperti bedah bypass arteri koroner, perbaikan septum atau transplantasi jantung dapat dilakukan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">DIAGNOSA KEPERAWATAN</span><br />Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan adanya kerusakan miokardium yang luas ditandai dengan adanya kegagalan kompensasi jantung yaitu ; akral dingin, dispnea, pucat, kesadaran menurun, gelisah.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Tujuan :</span><br />Gangguan rasa nyaman (nyeri) hilang dalam waktu 1 jam.<br />Kriteria hasil :  <br />- Nyeri dada hilang<br />- Pasien tenang<br />- Pasien merasa nyaman dan tidak cemas</p>
<p><span style="font-weight: bold;">INTERVENSI</span><br />1. Lakukan pendekatan terapeutik<br />2. Jelaskan mengenai penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.<br />3. Tenangkan pasien sehingga tidak cemas akan penyakitnya<br />4. Tirah baring sesuai dengan keadaan pasien<br />5. Observasi tanda-tanda vital<br />6. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian : oksigen, cairan, analgetik central (morphin), terapi digitalis, nitrit dan inotropik positit.</p>
<p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">REFERENSI</span></div>
<p>Lewis T, Disease of The Heart, New York, Macmillan 1993</p>
<p>Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.</p>
<p>Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, edisi VI, volume I : Hudak dan Gallo Hal. 360-379, Penerbit buku kedokteran.
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-2380073567230877208?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/lp-paru-emboli"  title="lp paru emboli">lp paru emboli</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-teoritis-gagal-nafas"  title="askep teoritis gagal nafas">askep teoritis gagal nafas</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/makalah-tujuan-cara-memindahkan-pasien"  title="makalah tujuan cara memindahkan pasien">makalah tujuan cara memindahkan pasien</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/ansietas-nyeri"  title="Ansietas nyeri">Ansietas nyeri</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/klasifikasi-dari-syok"  title="klasifikasi dari syok">klasifikasi dari syok</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqg8UkMQDI/AAAAAAAAALM/mWqZNmgIs40/s320/Kardiogenik.jpg" alt="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" title="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik</a></h4><p>Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Syok kardiogenik ditandai ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuHT0N4cTI/AAAAAAAAAXU/8QKaJrWcsLk/s320/Jantung.jpg" alt="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" title="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark">FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)</a></h4><p>Jantung mendapatkan aliran darah dari arteri koronaria. Sirkulasi koronaria meliputi seluruh permukaan jantung, membawa oksigen dan nutrisi ke miokardium melalui cabang-cabang intramiokardium yang kecil-kecil. Untuk ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ventrikel-septal-defek-vsd.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTtuKsJ9evI/AAAAAAAAAW0/bzcSNr9PCH4/s320/Ventrikel%2Bseptal%2Bdefek.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)" title="ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ventrikel-septal-defek-vsd.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)</a></h4><p>A. PengertianDefek septum ventricular (VSD) adalah suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan.(Rita &amp;Suriadi, 2001).VSD adalah adanya hubungan (lubang) abnormal ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-ami-acute-myocardial-infarction.html"  rel="bookmark"><img src="http://www.health-writings.com/img/my/acute-myocardial-infarction-symptoms/acute_myocardial1.png" alt="Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)" title="Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/askep-ami-acute-myocardial-infarction.html"  rel="bookmark">Askep AMI (Acute Myocardial Infarction)</a></h4><p>AMI (Acute Myocardial Infarction) A. PENGERTIANInfark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.(Brunner &amp; ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuFn573R2I/AAAAAAAAAXM/Z6ZzDk_o3rA/s320/PJK.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" title="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)</a></h4><p>DEFINISICAD adalah penyakit pada arteri koroner dimana terjadi penyempitan atau sumbatan pada liang arteri koroner oleh karena proses atherosklerosis. Pada proses artherosklerosis terjadi perlemakan pada ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN : KARDIOMYOPATI</title>
		<link>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-kardiomyopati.html</link>
		<comments>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-kardiomyopati.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 06:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Amiloidosis]]></category>
		<category><![CDATA[askep penyakit jantung pada kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[askep tentang non stemi]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan kateter]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan non stemi]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan nonstemi]]></category>
		<category><![CDATA[Dermatomiositis]]></category>
		<category><![CDATA[Distrofi Otot]]></category>
		<category><![CDATA[Elektrolit]]></category>
		<category><![CDATA[Fisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Infiltrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Ikat]]></category>
		<category><![CDATA[KARDIOMYOPATI]]></category>
		<category><![CDATA[Keganasan]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan kateter]]></category>
		<category><![CDATA[lp kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[lp pemeriksaan fisik post partum]]></category>
		<category><![CDATA[Multipara]]></category>
		<category><![CDATA[Nutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeri Dada]]></category>
		<category><![CDATA[Orthopnea]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik post partum]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Otot]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan kdm hiperpituitarisme]]></category>
		<category><![CDATA[Peripartum]]></category>
		<category><![CDATA[Radiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rongga]]></category>
		<category><![CDATA[Sarkoidosis]]></category>
		<category><![CDATA[Skleroderma]]></category>
		<category><![CDATA[Ventrikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-kardiomyopati.html</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGERTIAN Kardiomiopati adalah penyakit yang mengenai miokardium seara primer dan bukan sebagai akibat dari hipertensi, kelainan kongenital, katub, koroner, arterial dan perikardial (Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).Cardiomiopati kongestif disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk, hal 615). Bentuk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a target="_blank" rel="nofollow" href="http://asuhan-keperawatan.com/goto/http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1N0O-YIHI/AAAAAAAAAM0/xBWv74DeJAk/s1600/Kardiomiopati.jpg" target="_blank" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" ><img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 216px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1N0O-YIHI/AAAAAAAAAM0/xBWv74DeJAk/s320/Kardiomiopati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552179475385950322" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;">A. PENGERTIAN</span>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Kardiomiopati</span> adalah penyakit yang mengenai miokardium seara primer dan bukan sebagai akibat dari hipertensi, kelainan kongenital, katub, koroner, arterial dan perikardial (Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).<br /><span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Cardiomiopati kongestif</span> disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk, hal 615). Bentuk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan adanya penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri dan stasis darah dalam ventrikel. (Susanne, C Smelzer, 2002, hal 833)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">B. ETIOLOGI</span><br />Laporan Gugus Tugas WHO/ISFC tentang defisiensi dan klasifikasi kardiomiopati tahun  1980,  berdasarkan etiologinya digolongkan menjadi 2 macam yaitu:<br />1. Tipe primer: terdiri dari penyakit otot yang tidak diketahui penyebabnya.<br />a. Idiopatik<br />b. Familial<br />2. Tipe sekunder : terdiri dari penyakit otot jantung dengan sebab yang diketahui atau berhubungan dengan penyakit yang mengenai sisitem organ lain.<br />a. Infektif<br />• Miokarditis virus<br />• Miokarditis bakteri<br />• Miokarditis jamur<br />• Miokarditis protozoa<br />• Miokarditis metazoa<br />b. Metabolik<br />c. Penyakit familial<br />• Penyakit glikogen<br />• Mukopolisakaridosis<br />d. Defisiensi<br />• Elektrolit<br />• Nutrisi<br />e. Kelainan jaringan ikat<br />• Lupus eritematosis sistemik<br />• Poliartritis nodusa<br />• Arthritis reumatoid<br />• Skleroderma<br />• Dermatomiositis<br />f. Infiltrasi dan granuloma<br />• Amiloidosis<br />• Sarkoidosis<br />• Keganasan<br />• Hematokromatosis<br />g. Neuromuskular<br />• Distrofi otot<br />• Distrofi miotonik<br />• Ataksia friedriech<br />• Penyakit refsom<br />h. Reaksi toksik dan sensitifitas<br />• Alkohol<br />• Radiasi<br />• Obat<br />i. Penyakit jantung peripartum<br />• Kehamilan multipara<br />• Usia lebih 30 tahun<br />(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).</p>
<p><span style="font-weight: bold;">D. MANIFESTASI KLINIK</span><br />• Sesak napas<br />• Lemah<br />• Orthopnea<br />• Dyspnea paroksimal nocturnal<br />• Edema perifer<br />• Palpitasi<br />• Nyeri dada ( yang tidak khas bisa timbul)<br />• Angina pectoris ( jika penyakit korner menyertainya)<br />(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">E. PEMERIKSAAN PENUNJANG</span><br />1. Rontgen<br />• Menunjukkan pembesaran jantung sedang-besar<br />• Hipertensi vena pulmonalis<br />2. EKG : menunjukkan kelainan ST-T<br />3. Ekokardiogram : berkesan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri<br />4. Radionuklir : menunjukkan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri ( RVG = ; ventrikulogram radionuklid ; TI = thaliun 201)<br />5. Kateterisasi jantung<br />• Dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri dan kanan<br />• Curah jantung menurun<br />6. Angiografi : berkesan ventrikel kiri hipokinetik difus serta dilatasi, sering disertai dengan regurgitasi mitral<br />7. Biopsi Endomiokard transvenus<br />• Digunakan pada kondisi seperti infiltrasi miokard oleh amiloid<br />• Berkesan inflamasi sel bundar miokardium<br />(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 250-251)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">F. PENATALAKSANAAN</span><br />1. Tirah baring  (terutama untuk penyebab yang tidak diketahui)<br />2. Menghindari aktivitas jasmani yang berat<br />3. Medikamentosa:<br />• Anti koagulan untuk embolisasi sistemik<br />• Kardiotonika seperti: amrinaon dan milrinon untuk menambah perbaikan klinik<br />• Kortikosteroid untuk antiinflamasi<br />• Antiaritmia untuk aritmia yang serius atau simtomatis.<br />4. Tranplantasi jantung, harus dipertimbangkan dan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terhadap prosedur tersebut<br />(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">G. KOMPLIKASI</span><br />Gagal jantung<br />(Susanne, C Smelzer, 2002, hal 835)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">H. FOKUS PENGKAJIAN</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">WAWANCARA</span><br />1. Keluhan utama (chief complaint) ? alasan datang<br />2. Keluhan dan keterangan tambahan (present illness)<br />3. Riwayat penyakit dahulu<br />4. Riwayat keluarga<br />5. Riwayat sosio ekonomi</p>
<p><span style="font-weight: bold;">PEMERIKSAAN FISIK</span></p>
<p>• KU: usia, kesadaran dan keadaan emosi kenyamanan, distress, sikap dan tingkah laku klien.<br />• Tanda- tanda vital<br />1. Pernafasan<br />frekuensi: bradipnea?, takipnea?<br />Keteraturan: reguler?, irreguler?<br />(cheyne stoke, asmatik?) amplitudo<br />2. Nadi<br />frekuensi<br />regularitas<br />amplitudo: besarnya isi sekuncup<br />bentuk/ contour<br />isi (volume)<br />perabaan arteri? keadaan dinding arteri<br />Pada tingkat lanjut tekanan nadi kecil<br />3. Tekanan darah<br />nilai normal bergantung: umur, jenis kelamin<br />Nilai rata- rata sistolik: 110-140 mmHg<br />Diastolik: 80-90 mmHg<br />4. Suhu badan<br />Metabolisme menurun, suhu menurun</p>
<p>Head to toe examination<br />1. Kepala<br />2. Mata: konjungtiva: anemia?<br />sklera, ikterus?<br />3. Mulut: tanda infeksi?<br />4. Kuping<br />5. Muka; ekspresi, anemia?<br />6. Leher: KGB? Tekanan vena jugularis externa meningkat<br />7. Dada: deformitas?gerakan dada?<br />8. Pemerikasaan perut: asites?perabaan hati dan limpa?<br />9. Ekstremitas<br />Lengan- tangan:refleks. Warna dan tekstur kulit, edema, clubbing<br />bandingkan arteri radialis kiri dan kanan</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pemeriksaan Khusus Jantung</span><br />1. Inspeksi<br />? Mid Sternal line<br />? Mid clavikular line<br />? Anterior aksilar line<br />? Para sternal line<br />2. Palpasi Jantung<br />? Pulsasi ventrikel kiri<br />? Pulsasi ventrikel kanan<br />? Getar jantung<br />Didapatkan adanya berbagai tingkat pembesaran jantung.<br />3. Auskultasi<br />Biasanya terdengar bunyi jantung ketiga dan keempat . Juga dapat timbul  bising diastolik.</p>
</div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4527142762198822411-5572661381373998095?l=asuhankeperawatans.blogspot.com' alt='' /></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-tentang-non-stemi"  title="askep tentang non stemi">askep tentang non stemi</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/asuhan-keperawatan-nonstemi"  title="asuhan keperawatan nonstemi">asuhan keperawatan nonstemi</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/asuhan-keperawatan-non-stemi"  title="asuhan keperawatan non stemi">asuhan keperawatan non stemi</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/askep-penyakit-jantung-pada-kehamilan"  title="askep penyakit jantung pada kehamilan">askep penyakit jantung pada kehamilan</a></li><li><a href="http://asuhan-keperawatan.com/search/penyimpangan-kdm-hiperpituitarisme"  title="penyimpangan kdm hiperpituitarisme">penyimpangan kdm hiperpituitarisme</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to ASUHAN KEPERAWATAN : KARDIOMYOPATI</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQqg8UkMQDI/AAAAAAAAALM/mWqZNmgIs40/s320/Kardiogenik.jpg" alt="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" title="Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-penatalaksanaan-syok-kardiogenik.html"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan : Penatalaksanaan Syok Kardiogenik</a></h4><p>Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Syok kardiogenik ditandai ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TQ1MAPneBCI/AAAAAAAAAMs/K6J3McbXGkI/s320/Payah%2BJantung.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" title="ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-decomp-cordis-payah-jantung.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN DECOMP CORDIS (PAYAH JANTUNG)</a></h4><p>DEFINISISuatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ventrikel-septal-defek-vsd.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTtuKsJ9evI/AAAAAAAAAW0/bzcSNr9PCH4/s320/Ventrikel%2Bseptal%2Bdefek.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)" title="ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-ventrikel-septal-defek-vsd.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN VENTRIKEL SEPTAL DEFEK (VSD)</a></h4><p>A. PengertianDefek septum ventricular (VSD) adalah suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan.(Rita &amp;Suriadi, 2001).VSD adalah adanya hubungan (lubang) abnormal ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuHT0N4cTI/AAAAAAAAAXU/8QKaJrWcsLk/s320/Jantung.jpg" alt="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" title="FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/fisiologi-aliran-darah-jantung-tinjauan-teori.html"  rel="bookmark">FISIOLOGI ALIRAN DARAH JANTUNG (TINJAUAN TEORI)</a></h4><p>Jantung mendapatkan aliran darah dari arteri koronaria. Sirkulasi koronaria meliputi seluruh permukaan jantung, membawa oksigen dan nutrisi ke miokardium melalui cabang-cabang intramiokardium yang kecil-kecil. Untuk ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_DmGFMv8zAeg/TTuFn573R2I/AAAAAAAAAXM/Z6ZzDk_o3rA/s320/PJK.jpg" alt="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" title="ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-jantung-koroner-cad.html"  rel="bookmark">ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER (CAD)</a></h4><p>DEFINISICAD adalah penyakit pada arteri koroner dimana terjadi penyempitan atau sumbatan pada liang arteri koroner oleh karena proses atherosklerosis. Pada proses artherosklerosis terjadi perlemakan pada ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asuhan-keperawatan.com/asuhan-keperawatan-kardiomyopati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

